twitter
rss

This story will be all over the place (again).

Masih tentang kawan aku, si N dan si A.

Sekilas dulu.
A lebih dulu kenal N.
A mengenalkan aku ke N.
Aku mengenalkan S ke A.

S berkonflik dengan A.
S mengajak aku pro dia, tapi aku menolak. Akhirnya S marah ke aku. Ya sudah. Tapi kadang aku tetap kirim hadiah untuk S melalui N.

Aku dan A tetap berteman tapi gak seperti dulu karena kadang perkataan A dan double standard yang dia pakai dalam menilai sesuatu.
Misal: kalau seseorang melakukan sebuah hal yang menurut dia salah, dia tak segan-segan memberi komentar buruk. Tapi seringnya, A juga tertangkap melakukan hal yang sama setelahnya hahahaha.

Misal: dia menyebut aku "tak beretika" karena menyebarkan nomor telepon orang lain tanpa consent (in my defense, aku sudah minta izin keorangnya, tapi gak direspon, sementara kawanku, N, sangat butuh nomor orang itu saat itu). 
Tak lama setelah menyebut aku "tak beretika", dia ketahuan memberikan nomorku pada dua orang kawannya tanpa consent dari aku dan I played dumb (karena lama setelah kejadian, aku baru tahu soal cap 'tak beretika' yang disematkan kepadaku).

Dan hal lain yang cukup receh.

Back to the story.
Kami yang tadinya ke mana-mana berempat: aku, S, A, N sudah pecah.
Tinggal aku dan N yang alhamdulillah baik pertemanan kami.

N sudah berkali-kali dibuat tersinggung oleh A dan memilih jaga jarak. Mind you, S, A, dan N masih tinggal di suatu kota yang sama di negara antah-berantah. Aku sudah chao.

Nah... kembali ke soal "mentang-mentang."
Jadi sewaktu aku masih di sana (tapi beda kota dengan N), N bisa dibilang awalnya gak terlalu banyak tahu tentang proses pengurusan dokumen ini itu. Semua info yang N dapat berasal dari A. Jadi bisa dibilang, A ini "pampering" N - but not in a good way. Jadi N ini mau gak mau bergantung pada A. Beberapa kali info yang A berikan gak akurat dan bisa membahayakan status N di negara tersebut. Aku dan kawan kami satu lagi, RW, sering kali mengingatkan N untuk ambil langkah yang berbeda dari yang diinfokan oleh A. Namun karena kondisi N yang sulit, ya... kami mengerti bahwa N butuh waktu untuk eksekusi.

Tapi dasar aku dan RW suka geregetan dengan gerak yang kurang gercep, jadi kami cuma bisa garuk-garuk kepala sendiri lihat N yang lama ambil keputusan (padahal sih kalau aku atau RW ada di posisi N, kami akan bersikap serba salah juga. Penonton memang seringnya lebih heboh dan sok tahu daripada pemain hehehe).
____________________ 💗 ____________________

Yang aku sadari banget perbedaan antara di Indonesia dengan negara itu adalah; di sana serba computerize, jadi gadget canggih, internet, laptop dan printer bukan masuk ke kebutuhan tertier. Tapi sudah masuk kebutuhan primer, sejajar dengan nasi dan lauknya.

Nah. Saat itu N ini gak ada laptop dan printer. A sarankan N untuk beli yang second. Tapi aku sarankan sebaliknya: elektronik beli yang baru kalau memungkinkan karena kita gak tahu kerusakan apa yang ada pada alat elektronik second yang kita beli. Syukur kalau awet. Lah... kalau tiga bulan rusak kan bisa dobel biaya yang keluar dibanding beli baru.

Akhirnya N beli laptop dan printer baru.
And you know what A said? "Mentang-mentang banyak duit" yah... kurleb gitu. Padahal A tahu bagaimana kondisi N saat itu; weak finacially and mentally.
Kata "Mentang-mentang" itu sarkas yang betul-betul sickening.
Tapi Allah subhanallahu wa taala kasih kekuatan ke N. Alhamdulillah.

Nah... beberapa waktu lalu aku juga kena dikatakan "mentang-mentang."
Deep down, ya cringe lah.
Tapi dibawa ketawa aja karena kupikir, kita gak hidup lama-lama, kurang-kuranginlah nyakitin orang.

Masalahnya menurut aku sih aneh.
Karena aku menolak mengerjakan sebuah tugas yang memang bukan tugas utama aku. Tbh ya, I have right to reject but probably it had been long time that I did stuff that not mine, so I was kinda 'yes mam' person because I was willling to.
But there was time when it's getting too much too handle n I had to say no to people that cannot accept 'no' as an answer. So, instead of respecting my right they just went saying 'mentang-mentang' and calling me another name.

Was I angry? Idk. I don't think so 🤔
Hurtful? Little bit.
Sad? Kinda.
Well, Iam human being. I have feeling tho.
I did things more than I should have in last five years, but in one 'no' word from me, I turned into a snobbish individual 😂.

Well, that's okay.
Yeah... sebenarnya intinya adalah: stop judging lah...
Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu, hargai. Apalagi kalau hal yang dilakukan tersebut tidak merugikanmu secara materi atau mengurangi jumlah paru-paru atau pun jumlah jari tanganmu. Chill.

Jangan karena status sosial atau tingkat pendidikanmu lebih tinggi dari orang lain maka kamu berhak mendikte atau mengontrol hidup orang lain karena menganggap dia 'tak tahu apa-apa.'

Ingat ya kata Pak RG: ijazah itu bukti orang pernah sekolah, bukan pernah berpikir.

Tapi ini jadi pelajaran besar untuk aku: jangan pampering orang lain, jangan rely on somebody else, ingat kebaikan orang lain, jangan hanya karena seseorang stand up for their own rights, jadi kita berubah menjadi judgmental.

Learn to accept 'no' as an answer karena yakinlah bahwa tiap jawaban pasti ada alasan di balik itu atau mungkin, caramu yang kurang baik atau you have been crossing the line wayyyyyyy to far jadi - in a short word, you deserve to get a NO. A big NO!!!

Itu aja sih.
Rules of thumb sebenarnya.
Sometimes you just need common sense to fathom something, not a certificate from university.

Adios.


 



This story will be all over the place (like usual) since my thoughts are not organized.

Prolog:
Beberapa hari lalu aku dengar ceramah dari seorang Ustad tentang perkataan yang baik. Salah satu kalimat yang dikatakan Pak Ustad adalah: kalau memang perlu blokir orang yang menganggu, blokir saja, tak masalah. Tidak perlu dinamakan 'setan 1' atau 'setan 2' di kontak.

It remids me of something.
Jadi dulu saat rantau, aku kenal dengan seorang kawan (initial S), dia baik banget ke aku. She came into my life in the perfect time, pas banget aku lagi butuh pertolongan, Allah sent her, of course. Aku tinggal di tempat dia. Dia dan suaminya (usia nyaris 80 thn) anggap aku anaknya sendiri.

Sejak saat itu pertemanan kami makin baik. Secara karakter, dia itu kebalikan dari aku. Dia typical yang ramai, suka dengan keramaian, suka bicara, sumbu pendek (sumbu aku gak panjang sih, tapi compared with her, sumbu aku panjangan dikit sekitar 2 cm :)). Satu lagi yang sangat membedakan aku dengan kawanku itu; makin dia gak suka dengan seseorang, makin diungkit. Kadang, aku dengar cerita dari dia tentang seseorang (hal yang negatif, tentu saja), sampai belasan bahkan puluhan kali. Sudah sering diingatkan, "udahlah, let it go. Ngapain diomongin," tapi gak mempan. Ya.... mau gak mau aku anggap cerita dia sebagai bahan pelampiasan kekesalan dia (sebenarnya jadi aku yang jadi bahan pelampiasan frustasinya hahaha, tapi ya sudahlah).

Kemudian datang kawan baru (initial A). Jadi pertemanan kami berkembang. Namun setelah beberapa lama, akhirnya S dan A, renggang. Tapi aku masih berhubungan baik dengan A. Masalah S dan A gak mempengaruhi pertemanan aku dengan A.

Siapa yang salah? Nggak tahu.
Yang aku tahu ada sikap atau perkataan dari si A yang membuat S tersinggung. Jujur diakui ya... sikap dan ucapan A ini tajam dan double standar. Beberapa perkataan dia pernah juga bikin aku ehghhhtthh kesel. Tapi ya, buat apa dilanjutkan. Cukup jaga jarak aja karena supaya kita gak kena sakit hati juga. Beres.

Ok. Potong sebentar tentang sikap A ke aku yang bikin kesal. Ini terjadi setelah aku pindah dari tempat S. Jadi A, S, N tinggal dalam satu kota, aku pindah sekitar 6 jam perjalanan driving.

A kenalkan aku ke kawan (initial N). N dan aku alhamdulillah tetap berkawan baik sampai sekarang.

N ini yang super sabar, gak mau urusin orang, hatinya disakitin berulang oleh orang yang sama, tetap aja woles tapi jaga jarak.

N waktu itu terkena musibah (mind you that N and I lived separated, 6 hours driving from my place). Somehow, N cerita ke A tapi solusi yang diberikan melanggar hukum wilayah setempat. Jadi N telepon aku.

Aku menawarkan N untuk menghubungi seseorang yang punya extra room di apartmennya (initian R). Aku WA si R, minta izin untuk share nomornya ke N. No response. Aku hubungi via FB, juga no response. Sementara N sangat butuh tempat tinggal, otherwise, N dan anaknya harus keluar dari tempat mereka sekarang. A dan S entah waktu itu gimana dan kenapa gak bisa ditumpangi sementara, masih jadi misteri.

Karena urgent, aku share nomor R ke N supaya dia sendiri langsung hubungi R
Tapi tetap no response. 

Nah... si A tahu aku share nomor R ke N tanpa consent dari R. Lalu A menyebut aku "tidak beretika." Baik. Aku minta maaf. Kondisi kawanku si N adalah prioritas aku saat itu, dibanding etika.

Nah... beberapa waktu kemudian, aku mendapat WA dari nomor tidak dikenal dan meminta tolong aku untuk carikan tempat tinggal atau semacamnya (aku lupa).

Aku tanya kamu siapa dan tahu dari mana nomor aku. Dijawab: aku tahu dari A.

Jadi kawan A adalah sepasang suami istri yang baru datang di kota tempat aku tingal. Mereka gak kenal siapa-siapa, kecuali A, sedangkan A tinggalnya jauh. Jadi... demi menolong kawan-kawannya, si A memberikan nomor aku kepada dua orang asing itu TANPA consent dari aku.

Ada standar ganda yang dia pakai di sini.
Ketika aku menyebarkan nomor orang lain (tanpa consent) dikatakan tidak beretika. Tapi ketika dia melakukan hal yang sama, it's fine, nothing wrong. Padahal kalau minta izin, ya dikasih juga. Tapi gengsi menghalangi A dari meminta izin.

Itu salah satu penyebab A berkonflik dengan S. A typical orang merasa diri superior jadi saat S berbicara, sering disanggah oleh A yang membuat S tersinggung. Mind you, S ini usianya jauh lebih senior dibanding aku, S, dan N jadi dimaklumi kalau egonya lebih besar.

Balik lagi ke S.
Jadi S ada rasa dendam - bisa dikatakan begitu - terhadap A.

S terus-menerus bugging A tapi hanya sebatas menjelekkan A ketika bicara dengan orang lain (rumah mereka berdekatan jadi kalau mau tawuran bisa aja sebenarnya haha tapi jalan ini gak dipilih. Kenapa? Tak tahu awak). Cara lainnya adalah S menyerang A di FB.

Apakah N, aku, dan yang lain muak lihat tingkah S? Oiya, tentu saja, Kisanak! Tapi nasihat kita selalu diabaikan.

Suatu hari, aku mendapat notifikasi di FB aku. Aku jarang langsung cek FB kalau ada notif karena biasanya tak penting.

Tak lama, aku di WA kawan baikku si Evan. Dia menyertakan screenshot yang menunjukkan komentar buruk S ke A. Kata-kata yang ditulis betul-betul kelewatan. Evan meminta aku untuk delete komen tersebut.

Aku meluncur ke TKP.
Langsung aku block S dari FB. Tapi aku tetap berkomunikasi via telepon.

Years went by.
Aku kembali ke negara tercinta. Tapi komunikasi aku dan S, N, dan A masih. Ke S dan A dan memang dibatasi, kalau perlu saja.

Suatu hari S WA aku, isinya makian ke A. Bukan hanya ke A, tapi juga makian ke anak-anak A. It was wayyyyyyy crossing the line.

Aku ingatkan untuk cool, tapi tidak diindahkan. Aku bukan pro ke A - gak pro ke siapa-siapa, terlalu malas untuk terlibat dalam drama mereka, tapi aku dibuat kesal karena terus-menerus dijadikan tempat sampah makian S kepada A.

Akhirnya kuputuskan untuk bugging S. Kujawab WA-nya: aku gak peduli apa opini kamu tentang A. A tetap kawanku. Dan aku sayang kawanku itu.

Sent.
Received. Black check mark.
Blocked.

Aku yakin S misuh-misuh saat baca WA aku and I was glad about it :).
I do love my friend, A, tapi ya general aja. Gak defensive. Aku reply begitu niatnya bugging S aja 🤣.

Tadinya aku sedikit menyesal karena blocking nomor S tapi gak sanggup deh lihat makian S ke anak-anak A. Mereka gak tahu apa-apa. Orang dewasa vs. Orang dewasa. Bully terhadap anak gak bisa diterima dengan alaaan apapun.

Tapi beberapa kali aku beri hadiah ke S yang aku titip ke N atau kirim salam melalui N. Stating that: I don't have problem with you, S. If you see me as a problem, that's your issue.

Rasa bersalah setelah blocking S terobati setelah aku mendengar ceramah Pak Ustad tersebut. Ternyata blocking orang tidak selalu salah selama kita punya alasan jelas dan kuat dan mempertimbangkan mudharat yang timbul bila blocking tidak dilakukan.

Sekian ceritaku.
Masih ada pengalaman lain yang aku alami dan probably u're gonna skip 😅. But that's ok. 

See u Loves.








Warning:
This story will go all over the place.
So pardon me.

It's about a person. Just call her "Arry."

It was started years ago. Arry met a very nice woman whom she considered a good friend. They live ocean aparts. Even tho they seldom comunicate, they are still friends.

This lady (let's call her Tina) is from different country from Arry. They know each other very well. At one point, Tina even deemed Arry as her daughter. Arry didn't mind at all. Instead, she liked it.

They both met in a west.
They both were immigrants from two different asian countries. Tina was sponsored by her husband (now ex) to come to that country. When then divorced, her ex, a proffessor in a university, went back to their country, while Tina keeps staying there with her two sons (both of them are married).

Arry came there with a working visa.
Destiny played role to their lives.

After years, time for Arry to go back to her country but they keep in touch once or twice a year, sometime only to say Ramadan mubarak or happy Eid. Common small talk.

This Arry girl is a single woman. Some men had been introduced to her by Tina but somehow hadn't worked. Nobody's false.

There was a moment where Tina introduced Arry to a man named Sultan. This Sultan intended to introduce Arry to his friend. Arry and Sultan met several times in a coffee shop, discussing about the man he was about to introduced.

It didn't go well.
Both parties were not interested.
But unknown to Arry, Sultan made a move toward her. Arry spotted it and kept her distance since she knew this guy was married.

Arry never told this to Tina since she would feel bad if she knew her friend was trying to hit on Arry.

So years went by.
Arry and Tina live separated.
One day, Tina called Arry, she intended to introduce Arry to her friend who was living in the same city as Arry.

At first, Arry was so hasitant. She was doubtful about the whole idea but seemed that Tina didn't accept "no" for an answer. So reluctantly, Arry agreed to meet this guy.

Long story short, they met in a mall.
Arry felt uneasy meeting this guy but in order to keep Tina happy, she still did it.

Tina expect Arry to report the meeting and pushed Arry to introduce the guy to her parents. Arry rejected the idea by saying, "how could I introduce a man that I barely know to my parents? Doesn't make sense."

On the line, Tina pushed her and convinced her that the guy was a very good guy. 
Arry gave up and gave a chance.

So in the second meeting they talked about meeting Arry's parents. The guy even went further talking about where they would live etc.

On Sunday, picked up by her brother, the guy came. All Arry's family (parents and siblings) welcomed him warmly. They talked aboud many things and had lunch together.

After few hours, time for him to leave. Her parents said nothing about him and just agreed with any decision that Arry would make. Deep down, Arry wasn't sure about having commitment with this guy but Tina's attitude affected her decision. She felt guilty for not listening for Tina since she helped Arry in the past.

In the evening, Arry got texted from the guy. He wanted to meet Arry to discuss about the marriage and all the stuff. The uneasiness didn't go but she kept continuing with the idea while relying to God in every step.

They met the day after in a small coffee shop. Since the guy was foreigner, so there would be many documents that had to be prepared. Arry knew about it.

He showed Arry some documents that had logo of his company and showed her how much money he had. Did Arry give a shit? Nope. The uneasy feeling stopped her from being seduced with all the possesion he was showing.

Arry told him that he had to have legal documents from his embassy first before Arry could proceed with her documents. The guy said it was unnecessary. Arry saw it as a red flag. She said her brother had asked her uncle, a lawyer, to handle it. But the guy said that was not needed. He said he would pay someone to speed up the process. Second red flag.

Arry gathered her courage and asked about mahr, one of requirement in Islam if people want to get married.

The guy said that since this is pandemic so no needed to have wedding. Arry agreed but that was not what Arry meant. Arry meant the mahr, not wedding expenses.

The guy said, " I can only give u 3 million. For mahr and meal."

Arry stunned. It's sensitive issue. It could sound like a business if she didnt deliver the message correctly. He didnt change his mind.

Then Arry proceeded, asking about the basic household stuff like bed, stove, etc.

The guy asked how much Arry's salary. She answered.

The guy then said, "okay. We will rent a house. You will pay for the rent and electric and I will pay for the meal."

Arry felt sick.

The guy continued, "and I need you to buy bed, stove, plates, basic things with your money first. Once I get money returned from the company, I will pay you back, but dont tell this to your family because I dont want your family underestimate me."

Arry laughed at the idea.

Before they went to separated direction, the guy asked Arry to stop for while and asked her to chit chat some more and acting like a charming prince. She's sick to her stomach and refused the idea, saying that she was tired and needed to go home.

At night, the guy texted her.
Arry asked one more time about the amount of the mahr. He mentioned the same number: 3 million. All included. Mahr and meal for the guests.

Arry said, "you asked me to keep secret from my family about wanting to borrow my money since you dont want to be understimated but at the same time, you provide 3 million for meal and mahr. The mahr that you will say it in front of many people. You will humiliate yourself in front of many people."

The guy said, "I dont care. I just will provide that much. You have right to demand, I have right to reject."

Arry said, "you know, the amount of mahr that you give shows your willingness to provide your family."

Arry tried to explain the mahr while trying not to sound it like a business. It is not a business but in their faith, a man must try his best to provide mahr and woman is expected to make the mahr easier. Arry knew it but the guy's response didnt sound that he was serious about trying his best to provide and on the top of that, he asked Arry to lend him money.

So Arry stoppped the conversation and said bye, hoping that it would be the last conversation with him. Ever. But before she said good bye, the guy asked whether Arry loved him. Arry felt sick. She didnt even liked him.

"Why?" Replied Arry, answering the silly question.

"Answer me properly," he demanded.

To stop the conversation, Arry replied, "yes. Why?"

He didnt give the answer, but said that he loved Arry.

She got so sick. And said bye.

He texted the next day.
Arry decided to tell the guy that it didnt work and wish him the best. The guy accepted it.

Arry proceeded to tell Tina.
Tina called her immediately and asked the reason. "Is it about mahr?" Tina guessed.

"Yes. And the top of that, he wanted to borrow my money."

"How much he would provide the mahr?"

"About 200 dollars. He said his family provided so much money and gold for dowry when his sister got married. Im not comparing. But it shows that his family has willingness to provide for the future family. He has no willingness and said up to me whether I accepted or not. So I stopped this."

Tina said, "yes. In our culture, woman provides for the dowry."

Arry said, "yes. We have different culture. But still, i didnt see willingness to provide the best that he could because at the end of the day, he would expect me to be willing to obey him but he didnt do the same thing, even from the get-go."

Tina said, "yea. When my sons got married, I provided the mahr. But when I got married, my family provided the dowry."

Arry said, "that's because you had the same culture."

Tina answered, "yes. Okay. It's okay if it didnt work."

Both of them said bye and hung up the phone.

Days went by, one day Arry got message from the guy's number. She just simply ignored it. She deleted without reading the message so that he wouldn't see the blue check mark.

Have some dignity.
Please and thank you.







Baru aja cek twitter dan ada video dari salah satu kementrian di Indonesia, sebenarnya video bercandaaan aja. Tapi kesan yang timbul adalah toxic working environment. Lihat video itu, aku jadi ingat tempat kerja yang sebelumnya.

Jadi sekitar satu dekade yang lalu aku iseng apply kerjaan di sebuah TK bilingual dekat rumah. Itu tempat kalau diperhatikan, sering banget pasang iklan cari guru. Tadinya aku pikir itu tempat sering pasang iklan karena institusinya sangat besar dan butuh banyak guru belakangan aku tahu bahwa pergantian personel terjadi karena kondisi kerja yang toxic.

Tempatnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari rumah. Kadang aku naik sepeda ke sana atau tunggu di suatu spot yang selalu dilewatin kawan yang naik motor, lalu barengan sampai sana.

FYI, kawanku itu karyawan baru juga sama kayak aku. Kita masuk pada saat yang bersamaan dan langsung klik saat itu juga. Sebenarnya bukan cuma dia, tapi ada juga 4 orang personel baru. Tapi aku memang paling dekat dengan kawanku itu - sampai hari ini hubungan pertemanan kami tetap terjaga.

Saat pertama kali apply, sebenarnya gak pede karena aku gak punya pengalaman ngajar TK, let alone ngajar dengan metode Montessori. Metode itu benar-benar seperti alien, jadi benar-benar asing. Kenapa aku diterima padahal gak ada pengalaman dan background sama sekali? No idea. Satu-satunya alasan yang bisa aku pikirkan adalah karena mereka betul-betul butuh guru dan siapa saja yang daftar, ayo aja, selama pendidikannya S1.

Dari awal rekruit ditanya minta gaji berapa. Aku gak tahu dan gak berani bargain tinggi karena sadar diri gak punya pengalaman. Belakangan masalah jumlah salary ini salah satu alasan aku keluar karena sistem penggajian berdasarkan kemampuan lobby di awal, bukan sesuai dengan background dan experiences (aku gak punya teaching experience di TK, tapi ada beberapa tahun pengalaman mengajar di tempat lain, bahkan di Akper dan Akbid).

Saat dinyatakan diterima, aku dikenalkan dengan dengan senior aku yang akan jadi partner aku di kelas. Jadi satu kelas ada 18 siswa yang dibagi menjadi dua grup - grup sun and moon. Aku menghadle grup moon. Kita masing-masing menghandle 8 siswa.

Saat pertama kali aku dikenalkan oleh supervisor guru kepada calon partnerku di kelas, reaksinya di luar dugaan. Dia mendengus, balik badan dan tanpa basa basi meminta aku ikut dia ke kelas untuk dia menunjukkan lokasi kelasnya.

Itu baru awalnya.

Melihat reaksi awal seperti itu, I could'nt expect much.

Selanjutnya aku tahu dari kawan-kawan yang lain (sesama pegawai baru), ternyata beberapa dari mereka juga memiliki senior yang kurang lebih sama, tapi partnerku was the worst of all. 

Bedanya, yang lain bisa konfrontatif ketika ada hal yang kurang menyenangkan mereka. Sementara aku, prefer being silent dan pelajari banyak hal yang baru sendiri tanpa bergantung pada partner.

Dia super extrovert, aku super introvert. Dari hal tersebut pun sudah terlihat bagaimana dinamika partnership kami. Sometimes I felt so fed  up and wanted to resign but there was a a year contract - if I broke it, I would have to pay three months salary. Not a good idea. 

Days went by.

One one my close friends once told me that my teaching partner (let's call her M) often said bad things about me behind my back. TBH, it wasn't surprised me at all. I could feel it. My friend, let's call her N, said that M told everyone that I couldn't do anything.

I just laughed it off.

I knew my ability. 

I knew I hadn't had any experienced in teaching kids but it didnt mean I couldn't handle them.

I remember giving an idea to her about separating kids who had been able to read and write and those who hadn't.

I chose to handle the one who couldn't read and write yet.

She agreed. 

In less than a month, my group decreased, from 8 pupils to 3.

Meaning that I was successful enough at teaching them. Mind u that these kids were in their second years in the kindergarten. 

Once, when I entered a hall where was used to gather kids while waiting for them to be picked up, all heads turned toward me. M shooed them and pretended nothing happened. 

Ok fine.

After a year, It was time for me to resign.

For once she was so friendly to me and advised me not to resign or so.

But I couldn't handle it anymore.

So I did.

Later, I got an opportunity to work as a caregiver in another country for 4 years.

I grabbed the chance.

I learnt to deal with people like M and learnt to teach pupils in hard way but it's worthy since once of requirements that were considered for getting the job was being teacher for at least a year.

We were friend on facebook for sometimes until she unfriended me.

Do I care? Ah, nah!

Never sent friend request.

Not interested in being her friend in social media but I did accept the friend request only to show respect and not hurting her feeling.

Well, toxic people are everywhere and probably I am a toxic person for some people.

My silence probably bothers some people who are not accustomed to be silent and being replied with short words.

It's just me.

I am sorry if you feel ignored.

I never mean to.