twitter
rss


This story will be all over the place (like usual) since my thoughts are not organized.

Prolog:
Beberapa hari lalu aku dengar ceramah dari seorang Ustad tentang perkataan yang baik. Salah satu kalimat yang dikatakan Pak Ustad adalah: kalau memang perlu blokir orang yang menganggu, blokir saja, tak masalah. Tidak perlu dinamakan 'setan 1' atau 'setan 2' di kontak.

It remids me of something.
Jadi dulu saat rantau, aku kenal dengan seorang kawan (initial S), dia baik banget ke aku. She came into my life in the perfect time, pas banget aku lagi butuh pertolongan, Allah sent her, of course. Aku tinggal di tempat dia. Dia dan suaminya (usia nyaris 80 thn) anggap aku anaknya sendiri.

Sejak saat itu pertemanan kami makin baik. Secara karakter, dia itu kebalikan dari aku. Dia typical yang ramai, suka dengan keramaian, suka bicara, sumbu pendek (sumbu aku gak panjang sih, tapi compared with her, sumbu aku panjangan dikit sekitar 2 cm :)). Satu lagi yang sangat membedakan aku dengan kawanku itu; makin dia gak suka dengan seseorang, makin diungkit. Kadang, aku dengar cerita dari dia tentang seseorang (hal yang negatif, tentu saja), sampai belasan bahkan puluhan kali. Sudah sering diingatkan, "udahlah, let it go. Ngapain diomongin," tapi gak mempan. Ya.... mau gak mau aku anggap cerita dia sebagai bahan pelampiasan kekesalan dia (sebenarnya jadi aku yang jadi bahan pelampiasan frustasinya hahaha, tapi ya sudahlah).

Kemudian datang kawan baru (initial A). Jadi pertemanan kami berkembang. Namun setelah beberapa lama, akhirnya S dan A, renggang. Tapi aku masih berhubungan baik dengan A. Masalah S dan A gak mempengaruhi pertemanan aku dengan A.

Siapa yang salah? Nggak tahu.
Yang aku tahu ada sikap atau perkataan dari si A yang membuat S tersinggung. Jujur diakui ya... sikap dan ucapan A ini tajam dan double standar. Beberapa perkataan dia pernah juga bikin aku ehghhhtthh kesel. Tapi ya, buat apa dilanjutkan. Cukup jaga jarak aja karena supaya kita gak kena sakit hati juga. Beres.

Ok. Potong sebentar tentang sikap A ke aku yang bikin kesal. Ini terjadi setelah aku pindah dari tempat S. Jadi A, S, N tinggal dalam satu kota, aku pindah sekitar 6 jam perjalanan driving.

A kenalkan aku ke kawan (initial N). N dan aku alhamdulillah tetap berkawan baik sampai sekarang.

N ini yang super sabar, gak mau urusin orang, hatinya disakitin berulang oleh orang yang sama, tetap aja woles tapi jaga jarak.

N waktu itu terkena musibah (mind you that N and I lived separated, 6 hours driving from my place). Somehow, N cerita ke A tapi solusi yang diberikan melanggar hukum wilayah setempat. Jadi N telepon aku.

Aku menawarkan N untuk menghubungi seseorang yang punya extra room di apartmennya (initian R). Aku WA si R, minta izin untuk share nomornya ke N. No response. Aku hubungi via FB, juga no response. Sementara N sangat butuh tempat tinggal, otherwise, N dan anaknya harus keluar dari tempat mereka sekarang. A dan S entah waktu itu gimana dan kenapa gak bisa ditumpangi sementara, masih jadi misteri.

Karena urgent, aku share nomor R ke N supaya dia sendiri langsung hubungi R
Tapi tetap no response. 

Nah... si A tahu aku share nomor R ke N tanpa consent dari R. Lalu A menyebut aku "tidak beretika." Baik. Aku minta maaf. Kondisi kawanku si N adalah prioritas aku saat itu, dibanding etika.

Nah... beberapa waktu kemudian, aku mendapat WA dari nomor tidak dikenal dan meminta tolong aku untuk carikan tempat tinggal atau semacamnya (aku lupa).

Aku tanya kamu siapa dan tahu dari mana nomor aku. Dijawab: aku tahu dari A.

Jadi kawan A adalah sepasang suami istri yang baru datang di kota tempat aku tingal. Mereka gak kenal siapa-siapa, kecuali A, sedangkan A tinggalnya jauh. Jadi... demi menolong kawan-kawannya, si A memberikan nomor aku kepada dua orang asing itu TANPA consent dari aku.

Ada standar ganda yang dia pakai di sini.
Ketika aku menyebarkan nomor orang lain (tanpa consent) dikatakan tidak beretika. Tapi ketika dia melakukan hal yang sama, it's fine, nothing wrong. Padahal kalau minta izin, ya dikasih juga. Tapi gengsi menghalangi A dari meminta izin.

Itu salah satu penyebab A berkonflik dengan S. A typical orang merasa diri superior jadi saat S berbicara, sering disanggah oleh A yang membuat S tersinggung. Mind you, S ini usianya jauh lebih senior dibanding aku, S, dan N jadi dimaklumi kalau egonya lebih besar.

Balik lagi ke S.
Jadi S ada rasa dendam - bisa dikatakan begitu - terhadap A.

S terus-menerus bugging A tapi hanya sebatas menjelekkan A ketika bicara dengan orang lain (rumah mereka berdekatan jadi kalau mau tawuran bisa aja sebenarnya haha tapi jalan ini gak dipilih. Kenapa? Tak tahu awak). Cara lainnya adalah S menyerang A di FB.

Apakah N, aku, dan yang lain muak lihat tingkah S? Oiya, tentu saja, Kisanak! Tapi nasihat kita selalu diabaikan.

Suatu hari, aku mendapat notifikasi di FB aku. Aku jarang langsung cek FB kalau ada notif karena biasanya tak penting.

Tak lama, aku di WA kawan baikku si Evan. Dia menyertakan screenshot yang menunjukkan komentar buruk S ke A. Kata-kata yang ditulis betul-betul kelewatan. Evan meminta aku untuk delete komen tersebut.

Aku meluncur ke TKP.
Langsung aku block S dari FB. Tapi aku tetap berkomunikasi via telepon.

Years went by.
Aku kembali ke negara tercinta. Tapi komunikasi aku dan S, N, dan A masih. Ke S dan A dan memang dibatasi, kalau perlu saja.

Suatu hari S WA aku, isinya makian ke A. Bukan hanya ke A, tapi juga makian ke anak-anak A. It was wayyyyyyy crossing the line.

Aku ingatkan untuk cool, tapi tidak diindahkan. Aku bukan pro ke A - gak pro ke siapa-siapa, terlalu malas untuk terlibat dalam drama mereka, tapi aku dibuat kesal karena terus-menerus dijadikan tempat sampah makian S kepada A.

Akhirnya kuputuskan untuk bugging S. Kujawab WA-nya: aku gak peduli apa opini kamu tentang A. A tetap kawanku. Dan aku sayang kawanku itu.

Sent.
Received. Black check mark.
Blocked.

Aku yakin S misuh-misuh saat baca WA aku and I was glad about it :).
I do love my friend, A, tapi ya general aja. Gak defensive. Aku reply begitu niatnya bugging S aja 🤣.

Tadinya aku sedikit menyesal karena blocking nomor S tapi gak sanggup deh lihat makian S ke anak-anak A. Mereka gak tahu apa-apa. Orang dewasa vs. Orang dewasa. Bully terhadap anak gak bisa diterima dengan alaaan apapun.

Tapi beberapa kali aku beri hadiah ke S yang aku titip ke N atau kirim salam melalui N. Stating that: I don't have problem with you, S. If you see me as a problem, that's your issue.

Rasa bersalah setelah blocking S terobati setelah aku mendengar ceramah Pak Ustad tersebut. Ternyata blocking orang tidak selalu salah selama kita punya alasan jelas dan kuat dan mempertimbangkan mudharat yang timbul bila blocking tidak dilakukan.

Sekian ceritaku.
Masih ada pengalaman lain yang aku alami dan probably u're gonna skip 😅. But that's ok. 

See u Loves.








0 comments:

Post a Comment