twitter
rss

This story will be all over the place (again).

Masih tentang kawan aku, si N dan si A.

Sekilas dulu.
A lebih dulu kenal N.
A mengenalkan aku ke N.
Aku mengenalkan S ke A.

S berkonflik dengan A.
S mengajak aku pro dia, tapi aku menolak. Akhirnya S marah ke aku. Ya sudah. Tapi kadang aku tetap kirim hadiah untuk S melalui N.

Aku dan A tetap berteman tapi gak seperti dulu karena kadang perkataan A dan double standard yang dia pakai dalam menilai sesuatu.
Misal: kalau seseorang melakukan sebuah hal yang menurut dia salah, dia tak segan-segan memberi komentar buruk. Tapi seringnya, A juga tertangkap melakukan hal yang sama setelahnya hahahaha.

Misal: dia menyebut aku "tak beretika" karena menyebarkan nomor telepon orang lain tanpa consent (in my defense, aku sudah minta izin keorangnya, tapi gak direspon, sementara kawanku, N, sangat butuh nomor orang itu saat itu). 
Tak lama setelah menyebut aku "tak beretika", dia ketahuan memberikan nomorku pada dua orang kawannya tanpa consent dari aku dan I played dumb (karena lama setelah kejadian, aku baru tahu soal cap 'tak beretika' yang disematkan kepadaku).

Dan hal lain yang cukup receh.

Back to the story.
Kami yang tadinya ke mana-mana berempat: aku, S, A, N sudah pecah.
Tinggal aku dan N yang alhamdulillah baik pertemanan kami.

N sudah berkali-kali dibuat tersinggung oleh A dan memilih jaga jarak. Mind you, S, A, dan N masih tinggal di suatu kota yang sama di negara antah-berantah. Aku sudah chao.

Nah... kembali ke soal "mentang-mentang."
Jadi sewaktu aku masih di sana (tapi beda kota dengan N), N bisa dibilang awalnya gak terlalu banyak tahu tentang proses pengurusan dokumen ini itu. Semua info yang N dapat berasal dari A. Jadi bisa dibilang, A ini "pampering" N - but not in a good way. Jadi N ini mau gak mau bergantung pada A. Beberapa kali info yang A berikan gak akurat dan bisa membahayakan status N di negara tersebut. Aku dan kawan kami satu lagi, RW, sering kali mengingatkan N untuk ambil langkah yang berbeda dari yang diinfokan oleh A. Namun karena kondisi N yang sulit, ya... kami mengerti bahwa N butuh waktu untuk eksekusi.

Tapi dasar aku dan RW suka geregetan dengan gerak yang kurang gercep, jadi kami cuma bisa garuk-garuk kepala sendiri lihat N yang lama ambil keputusan (padahal sih kalau aku atau RW ada di posisi N, kami akan bersikap serba salah juga. Penonton memang seringnya lebih heboh dan sok tahu daripada pemain hehehe).
____________________ 💗 ____________________

Yang aku sadari banget perbedaan antara di Indonesia dengan negara itu adalah; di sana serba computerize, jadi gadget canggih, internet, laptop dan printer bukan masuk ke kebutuhan tertier. Tapi sudah masuk kebutuhan primer, sejajar dengan nasi dan lauknya.

Nah. Saat itu N ini gak ada laptop dan printer. A sarankan N untuk beli yang second. Tapi aku sarankan sebaliknya: elektronik beli yang baru kalau memungkinkan karena kita gak tahu kerusakan apa yang ada pada alat elektronik second yang kita beli. Syukur kalau awet. Lah... kalau tiga bulan rusak kan bisa dobel biaya yang keluar dibanding beli baru.

Akhirnya N beli laptop dan printer baru.
And you know what A said? "Mentang-mentang banyak duit" yah... kurleb gitu. Padahal A tahu bagaimana kondisi N saat itu; weak finacially and mentally.
Kata "Mentang-mentang" itu sarkas yang betul-betul sickening.
Tapi Allah subhanallahu wa taala kasih kekuatan ke N. Alhamdulillah.

Nah... beberapa waktu lalu aku juga kena dikatakan "mentang-mentang."
Deep down, ya cringe lah.
Tapi dibawa ketawa aja karena kupikir, kita gak hidup lama-lama, kurang-kuranginlah nyakitin orang.

Masalahnya menurut aku sih aneh.
Karena aku menolak mengerjakan sebuah tugas yang memang bukan tugas utama aku. Tbh ya, I have right to reject but probably it had been long time that I did stuff that not mine, so I was kinda 'yes mam' person because I was willling to.
But there was time when it's getting too much too handle n I had to say no to people that cannot accept 'no' as an answer. So, instead of respecting my right they just went saying 'mentang-mentang' and calling me another name.

Was I angry? Idk. I don't think so 🤔
Hurtful? Little bit.
Sad? Kinda.
Well, Iam human being. I have feeling tho.
I did things more than I should have in last five years, but in one 'no' word from me, I turned into a snobbish individual 😂.

Well, that's okay.
Yeah... sebenarnya intinya adalah: stop judging lah...
Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu, hargai. Apalagi kalau hal yang dilakukan tersebut tidak merugikanmu secara materi atau mengurangi jumlah paru-paru atau pun jumlah jari tanganmu. Chill.

Jangan karena status sosial atau tingkat pendidikanmu lebih tinggi dari orang lain maka kamu berhak mendikte atau mengontrol hidup orang lain karena menganggap dia 'tak tahu apa-apa.'

Ingat ya kata Pak RG: ijazah itu bukti orang pernah sekolah, bukan pernah berpikir.

Tapi ini jadi pelajaran besar untuk aku: jangan pampering orang lain, jangan rely on somebody else, ingat kebaikan orang lain, jangan hanya karena seseorang stand up for their own rights, jadi kita berubah menjadi judgmental.

Learn to accept 'no' as an answer karena yakinlah bahwa tiap jawaban pasti ada alasan di balik itu atau mungkin, caramu yang kurang baik atau you have been crossing the line wayyyyyyy to far jadi - in a short word, you deserve to get a NO. A big NO!!!

Itu aja sih.
Rules of thumb sebenarnya.
Sometimes you just need common sense to fathom something, not a certificate from university.

Adios.


 


0 comments:

Post a Comment