Baru aja cek twitter dan ada video dari salah satu kementrian di Indonesia, sebenarnya video bercandaaan aja. Tapi kesan yang timbul adalah toxic working environment. Lihat video itu, aku jadi ingat tempat kerja yang sebelumnya.
Jadi sekitar satu dekade yang lalu aku iseng apply kerjaan di sebuah TK bilingual dekat rumah. Itu tempat kalau diperhatikan, sering banget pasang iklan cari guru. Tadinya aku pikir itu tempat sering pasang iklan karena institusinya sangat besar dan butuh banyak guru belakangan aku tahu bahwa pergantian personel terjadi karena kondisi kerja yang toxic.
Tempatnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari rumah. Kadang aku naik sepeda ke sana atau tunggu di suatu spot yang selalu dilewatin kawan yang naik motor, lalu barengan sampai sana.
FYI, kawanku itu karyawan baru juga sama kayak aku. Kita masuk pada saat yang bersamaan dan langsung klik saat itu juga. Sebenarnya bukan cuma dia, tapi ada juga 4 orang personel baru. Tapi aku memang paling dekat dengan kawanku itu - sampai hari ini hubungan pertemanan kami tetap terjaga.
Saat pertama kali apply, sebenarnya gak pede karena aku gak punya pengalaman ngajar TK, let alone ngajar dengan metode Montessori. Metode itu benar-benar seperti alien, jadi benar-benar asing. Kenapa aku diterima padahal gak ada pengalaman dan background sama sekali? No idea. Satu-satunya alasan yang bisa aku pikirkan adalah karena mereka betul-betul butuh guru dan siapa saja yang daftar, ayo aja, selama pendidikannya S1.
Dari awal rekruit ditanya minta gaji berapa. Aku gak tahu dan gak berani bargain tinggi karena sadar diri gak punya pengalaman. Belakangan masalah jumlah salary ini salah satu alasan aku keluar karena sistem penggajian berdasarkan kemampuan lobby di awal, bukan sesuai dengan background dan experiences (aku gak punya teaching experience di TK, tapi ada beberapa tahun pengalaman mengajar di tempat lain, bahkan di Akper dan Akbid).
Saat dinyatakan diterima, aku dikenalkan dengan dengan senior aku yang akan jadi partner aku di kelas. Jadi satu kelas ada 18 siswa yang dibagi menjadi dua grup - grup sun and moon. Aku menghadle grup moon. Kita masing-masing menghandle 8 siswa.
Saat pertama kali aku dikenalkan oleh supervisor guru kepada calon partnerku di kelas, reaksinya di luar dugaan. Dia mendengus, balik badan dan tanpa basa basi meminta aku ikut dia ke kelas untuk dia menunjukkan lokasi kelasnya.
Itu baru awalnya.
Melihat reaksi awal seperti itu, I could'nt expect much.
Selanjutnya aku tahu dari kawan-kawan yang lain (sesama pegawai baru), ternyata beberapa dari mereka juga memiliki senior yang kurang lebih sama, tapi partnerku was the worst of all.
Bedanya, yang lain bisa konfrontatif ketika ada hal yang kurang menyenangkan mereka. Sementara aku, prefer being silent dan pelajari banyak hal yang baru sendiri tanpa bergantung pada partner.
Dia super extrovert, aku super introvert. Dari hal tersebut pun sudah terlihat bagaimana dinamika partnership kami. Sometimes I felt so fed up and wanted to resign but there was a a year contract - if I broke it, I would have to pay three months salary. Not a good idea.
Days went by.
One one my close friends once told me that my teaching partner (let's call her M) often said bad things about me behind my back. TBH, it wasn't surprised me at all. I could feel it. My friend, let's call her N, said that M told everyone that I couldn't do anything.
I just laughed it off.
I knew my ability.
I knew I hadn't had any experienced in teaching kids but it didnt mean I couldn't handle them.
I remember giving an idea to her about separating kids who had been able to read and write and those who hadn't.
I chose to handle the one who couldn't read and write yet.
She agreed.
In less than a month, my group decreased, from 8 pupils to 3.
Meaning that I was successful enough at teaching them. Mind u that these kids were in their second years in the kindergarten.
Once, when I entered a hall where was used to gather kids while waiting for them to be picked up, all heads turned toward me. M shooed them and pretended nothing happened.
Ok fine.
After a year, It was time for me to resign.
For once she was so friendly to me and advised me not to resign or so.
But I couldn't handle it anymore.
So I did.
Later, I got an opportunity to work as a caregiver in another country for 4 years.
I grabbed the chance.
I learnt to deal with people like M and learnt to teach pupils in hard way but it's worthy since once of requirements that were considered for getting the job was being teacher for at least a year.
We were friend on facebook for sometimes until she unfriended me.
Do I care? Ah, nah!
Never sent friend request.
Not interested in being her friend in social media but I did accept the friend request only to show respect and not hurting her feeling.
Well, toxic people are everywhere and probably I am a toxic person for some people.
My silence probably bothers some people who are not accustomed to be silent and being replied with short words.
It's just me.
I am sorry if you feel ignored.
I never mean to.



