Pada tahun ajaran 2023/2024 saya mendapat amanat menjadi wali kelas 1. Saat itu ada salah satu peserta didik yang langsung menarik perhatian saya, namanya Bilal. Anak ini dengan tubuhnya yang bongsor, senyumnya yang manis, dan cara bicaranya yang manja bisa membuat orang lain lansung felt in love with him. Banyak yang bisa ditulis tentang anak manis ini. Someday, probably.
Namun qadarullah, Allah sudah menakdirkan, 50 ribu tahun sebelum bumi ini diciptakan, Bilal menjadi Anak Surga pada usianya yang nyaris sembilan tahun. I was devastated. Even though I was not his mom, I was just a random person who happened to be his teacher for almost two years but I was THAT devastated when he's gone. Ok, I think I'm gonna cry now.
Bilal sakit sekitar satu bulan, dirawat di dua rumah sakit berbeda, menjalani dua kali operasi pada rumah sakit kedua. Bilal bertahan sekitar dua pekan di PICU setelah operasi. Tiap hari berharap ada kabar baik, ada kemajuan, tapi takdir berkata lain.
Pada Senin, 9 September pada nyaris pukul 11 PM, saya mendapat WA dari mama Bilal mengabarkan bahwa Bilal sudah tidak ada. Di grup kelas pun sudah penuh dengan ucapan belasungkawa. Saya speechless, hanya bisa menulis, "Bilal... Nak..." sambil menyertakan emoticon hati yang hancur. WA dari Mama Bilal hanya bisa saya jawab, "innalillahi... ketemu besok ya mam, inshaallah." Air mata turun tanpa bisa ditahan. Mama Bilal menelpon, mengabarkan bahwa jenazah akan langsung dibawa ke Bekasi untuk dikebumikan. Saya kembali speechless karena jujur saja saya ingin melihat Bilal untuk terakhir kalinya. Sebenarnya rumah sakit tempat Bilal dirawat hanya sekitar 10 menit dari rumah tapi waktu yang nyaris tengah malam membuat saya khawatir kalau ke sana sendirian.
Selasa pertama, 10 September.
Selasa dini hari.
Saya membuat mode pesawat pada ponsel saya lalu mencoba untuk tidur. Setelah bangun pagi dan sholat, saya mematikan mode pesawat. Tak lama, banyak notifikasi WA masuk, termasuk dari Mama Bilal, Mama Abid, dan orang tua lain yang mengabarkan bahwa jenazah Bilal akan dibawa kerumahnya, dan pukul 09.00 baru akan dibawa ke Bekasi. Ada kelegaan di sana. Lalu berpikir untuk minta izin ke Ibu Kepala Sekolah untuk membawa kawan-kawan Bilal untuk melihat Bilal yang terakhir kali pada pagi hari saat waktunya senam bersama (jarak rumah Bilal hanya 5 menit jalan kaki dari sekolah). Sampai di rumah Bilal, rahimahullah terlihat seperti sedang tertidur dengan tenang. Teringat Bilal yang suka melingkarkan tangannya di tangan saya dan menyandarkan kepalanya di bahu saya, lalu mengatakan kepada kawan lainnya, "ini mama aku." I broke down in tears. You r always be my special baby.
Selasa kedua, 17 September.
Senam berlangsung seperti biasa. Saya beberapa kali bolak-balik ke kelas karena mengikuti Q, salah satu peserta didik yang special. No problemo. Seorang guru perempuan tiba-tiba menghampiri saya mengatakan bahwa D ke atas. Akhirnya saya menyusulnya ke kelas sekaligus mengecek Q. Saat tiba di kelas, saya sedikit kaget karena ada Ibu Intan di kelas, ternyata Ibu Intan ikut juga mengawasi Q ketika Q lepas dari pengawasan saya. Bu Intan menunjuk ke arah D yang duduk dikursinya sambil meletakkan kepalanya di meja. Hh... ada masalah apa lagi dengan anak ini. Bu Intan menjelaskan concern-nya mengenai Q dan D. Kami berbincang sebentar lalu Bu Intan kembali ke lapangan. Saya mengucapkan terima kasih.
Saya mendekati D yang masih dalam posisi sama, tangannya menopang kepalanya yang bersandar di meja.
Saya mengusap kepalanya. "D sudah makan belum?" tanya saya.
D menggeleng.
"Aku bawa nasi tuh sama sosis, mau nggak?" tanya saya.
D menjawab mau.
"Ya sudah, mau makan sekarang atau nanti di lapangan bareng teman-teman yang lain?"
"Nanti aja di lapangan," jawabnya sambil memperbaiki posisi duduknya dan sekarang menghadap saya.
"D tadi ditegur siapa? Ibu guru atau Pak Guru?"
"Ibu Guru."
"Apa kata ibu guru itu?"
"Katanya baju aku kotor."
"Ok... ini ok kok. Ya sudah, itu nasinya yang di kotak warna biru ya."
Saya meninggalkan D lalu menghapiri Q mencoba membujuknya untuk ke bawah untuk makan bersama. Agak sulit mengalihkan perhatian Q dari kegiatan prakaryanya tapi akhirnya mau juga.
Ibu guru yang dimaksud D datang ke kelas saya untuk menanyakan kondisi D. Saya tanyakan ada apa tadi. "Aku tadi cuma tanya bajunya yang kotor," katanya. Saya katakan, "D ini kalau ada masalah dengan kawan atau guru, besoknya pasti gak masuk, sementara saya butuh dia masuk terus supaya ada alasan untuk menaikkan dia ke tingkat atas. Kalau ada yang perlu ditegur dari D, tolong kasih tahu saya atau Pak Zul aja, kita yang ngomong ke D." Jujur aja, saat ini kita baru mengetahui satu cara yang efektif bagaimana pesan yang kita sampaikan bisa dia terima tanpa drama.
Tapi untungnya besoknya D masuk.
Selasa ketiga, 24 September.
Sudah sekitar dua atau tiga pekan ini Q lebih sering membuat prakarya sesuka hati. Bahkan pada saat upacara Hari Senin, Q bolak-balik ke sana ke mari. Saya mencoba merayunya untuk ikut kegiatan rutin but no avail.
Hari Selasa, saat baru tiba di kelas, Q langsung mengambil kertas dan membuat prakarya. Tak lama kemudian saya mulai membujuknya untuk ke lapangan. Q menolak dan meneruskan mewarnai. Bel berbunyi. Saya terus membujuk Q. Tolakan tetap saya terima. Akhirnya saya ambil spidolnya. Q tantrum lalu menangis meraung. Saya kasihan sebenarnya. Tapi Q masih mampu latih yang artinya masih bisa diajak untuk mengikuti pembiasaan.
Saya biarkan Q menangis dan meminta spidol. Saya tetap mengulang, "sekarang waktunya senam. Ayo ke bawah." Q tetap meraung. Bu Magda yang kebetulan lewat mungkin kaget kerena ada suara tangisan dan menanyakan ada apa. Saya jelaskan alasannya. Saya biarkan Q menangis sampai dia lelah. Akhirnya Q mau ke bawah sambil membawa hasil gambarnya dan mengikuti senam.
Pada hari yang sama, D kembali tidak masuk. Tidak masalah sebenarnya karena hal seperti sakit, banjir, dan semacamnya bisa membuat aktifitas seperti pergi ke sekolah terganggu dan hal itu dimaklumi tapi yang tidak bisa dimaklumi adalah sikap "semau gue, kapan masuk, gue masuk, semau gue kabarin sekolah atau nggak." Saya pernah jelaskan kepada ayah D bahwa pointnya adalah menginfokan ke sekolah bila tidak masuk jadi jumlah alpa tidak keterlaluan.
Saya tunggu seharian, tapi pesan tidak ada. Status WA dari dua nomor orang tuanya ada. Nice, isn't it? Ya sudahlah.
Besoknya D masuk. Saya mencoba bersikap sabodo lah tapi nggak bisa ya. Akhirnya saya tanyakan D alasan kenapa nggak masuk pada Selasa.
"Ke Cinere," jawabnya singkat.
"Sama siapa?" Kulik saya lagi.
"Ayah."
Hhh... ketika terakhir kali ayahnya datang, saat itu terbentuk image bahwa hanya ibunya yang cuek yang didn't even bother to inform school about their kid's absence, ternyata sama saja. Rasa ingin tahu saya hanya sebatas itu sih, hanya ingin tahu apakah ada koordinasi yang baik antara orang tua setelah tanda tangan surat pernyataan. Ternyata sama saja. Terlalu naif berpikir bahwa ada perbedaan pola asuh yang significant antara kedua orang tua.
Hari Kamis D kembali tidak masuk dan tanpa info. Kembali... saya inginnya cuek aja tapi kekepoan ini terlalu besar untuk diignore yah haha. Akhirnya pada Hari Jumat saya tanyakan juga alasan D nggak masuk kemarin.
"Kesiangan," jawabnya.
"Ayah kamu tahu kalau kamu gak masuk?"
"Tau."
Hh... sudahlah. Bukan salah mereka, tapi ekspektasi saya yang perlu diturunkan. I blame myself for expecting them to behave like "normal parents."
Ya sudahlah.
Itu saja.
Lelah.
Tambahan info:
Hari ini, Senin, 30 September, D kembali tidak masuk tanpa kabar.



