twitter
rss


 

Tahun ajaran 2021/2022 lalu saya diberi amanat untuk menjadi wali kelas 1. Hanya satu rombongan belajar berisi 32 peserta didik. Ini tahun ke-2 saya menjadi wali kelas 1 sepanjang pengalaman mengajar tapi menjadi pengalaman pertama di tempat mengajar yang baru. Tempat yang baru ini hanya berjarak selemparan batu dari tempat pertama. No big deal lah. 

Typical peserta didik kelas 1, penuh dengan celoteh dan sangat mobile tapi mereka adalah anak-anak yang baik. Ada satu anak yang langsung menarik perhatian saya, namanya Abid namun qadarullah pada April 2023 Allah menjadikannya anak surga. Tentang Abid saya tulis di bagian khusus namun masih dalam draft.

Yang ingin saya ceritakan sekarang adalah seorang siswa berinisial D. Fisiknya kecil dan terlihat "bolang" if you know what I mean. Saat pertama kali kontak dengan anak ini, memang sudah terlihat bahwa "it's gonna be a bumpier year than usual." Yang saya ingat adalah seringnya tidak masuk tanpa kabar dari orang tua siswa ini. Penyebabnya bisa diprediksi; kalau ada hal yang membuatnya tersinggung, maka bisa dipastikan besoknya tidak masuk. Ketika saya bilang "besoknya" mohon dicatat bahwa "besok" tidak selalu berarti 1 hari. Bisa satu pekan. Dan ketika dia masuk pun, saya harus berpikir ekstra untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif agar tidak ada gesekan. Suatu hal yang tidak mungkin.

Gesekan sebenarnya hal yang lumrah apalagi di tengah-tengah anak-anak yang kemampuan sosialnya masih perlu diasah dan kemampuan membedakan benar dan salah masih cukup jauh. Namun untuk kasus D, gesekan kecil sekalipun, seperti tersenggol saat berjalan, dia bisa sangat agresif seperti memukul dan menendang kawannya. Bila saya memberi sikap tegas, besoknya dijamin dia tidak masuk sekolah. Orang tuanya sudah dipanggil berkali-kali, ayahnya yang selalu muncul tiap dipanggil. Ibunya datang entah sekali atau dua.

Pernah ada kejadian, saya lupa tepatnya apa tapi bukan hal yang besar, gesekan kecil antar anak. Namun reaksi yang muncul cukup di luar dugaan. Anak ini mengamuk sambil menangis, membuka baju seragam, melemparnya ke dalam kolam, lalu membuka tas sekolahnya dan melempar keluar seluruh isinya. Sang ibu yang saat itu ada di sekolah (entah untuk menjemput atau karena dipanggil, saya lupa) terlihat shocked dan malu. Well, ibunya saja shocked, apalagi kami!

Setelah sekian waktu, akhirnya tantrumnya sedikit mereda dan mulai mau diajak naik motor untuk pulang. Terlihat kakak kelas melihatnya dengan pandangan aneh namun anak itu menghampiri kakak kelas dengan gaya menantang. Saya berpikir, "REALLY THO??? You are petite!"

Sebelumnya saya menulis tentang Impresi. Jujur aja, dari sekian banyak hard times that he had given me, ada impresi positif yang saat itu muncul.

Jadi saat belajar sebelum tantrum, anak ini terlihat normal. Saya melihat dia memegang kue pukis dalam kemasan mika. Saya tanyakan untuk siapa kue itu. "Mama," jawabnya sambil tersenyum. Saat itu impresi yang saya dapat adalah, rasa sayang anak ini kepada mamanya sangat besar. Kurang lebih dua tahun berlalu sejak kejadian itu, penilaian saya terhadap anak ini tentang sayang kepada mamanya tidak berubah berdasarkan impresi awal tadi.

Beberapa kali pertemuan dengan ayahnya, 6 mata, bersama ibu kepala sekolah. Banyak hal yang diusulkan dan janji yang dibuat. Termasuk saran untuk menggunakan psikolog karena masalah emosi yang perlu dikaji lebih dalam yang bukan ranah kami para guru. Namun saran-saran itu terbang begitu saja. Bukannya saya tidak mengusahakan untuk mendapatkan psikolog dari Klinik Terpadu, namun ketika dapat telepon dari pihak klinik, entah missed atau memang tidak diangkat. Yang pasti, saat itu saya tidak mengusahakan kedua lagi dengan reasons:

1. Masih ada satu siswa ABK yang perlu diperhatikan dan diusahakan untuk mendapat kesempatan untuk dilakukan pemeriksaan di klinik tersebut dan kejadian ini pun cukup riweh, to say the least karena melibatkan orang tua dari siswa lain yang terdiagnosa ADHD.

2. Hal lain adalah; impresi kurang baik yang saya dapat dari respon orang tua D. 

Saat itu saya telah menjelaskan pada orang tua mengenai pemeriksaan oleh psikolog dan disetujui oleh orang tua (ayah). Saya sudah mendapatkan spot dan menunggu untuk dikabari oleh psikolong yang available. Siswa ABK pertama sudah respon terhadap panggilan psikolog dan kooperatif dengan menginfokan hal-hal apapun yang terkait pemeriksaan. Setelah beberapa lama, saya tanyakan kepada orang tua dari D apakah sudah dihubungi oleh psikolog. Jawabannya "sudah, tapi tidak terangkat teleponnya." Hal itu tidak diinfokan kepada pihak sekolah kalau tidak ditanyakan. Judgement saya bermain, "kalau memang ada keinginan untuk itu, pasti akan diusahakan banyak cara, at least menginfokan ke pihak sekolah," tapi ini blasss... Willingness tidak ada. Percuma kami pihak luar berusaha keras untuk mengubah, bila pihak keluarga pasif cenderung ignorant.

Jadilah anak ini sering tidak masuk. Seingat saya dua bulan tidak masuk tanpa kabar. 

Hal-hal yang telah kami lakukan:

Edukasi orang tua ✅

Pendekatan persuasif terhadap anak ✅

Mengusahakan lingkungan yang lebih kondusif ✅

Memberi ketegasan ✅

Home visit ✅

Pada saat pemanggilan orang tua entah yang kesekian kali, I lost counting saking seringnya, sudah pula diingatkan konsekuensi bila ada pelanggaran disiplin yang constant yaitu mengulang di tingkat yang sama namun karena kurikulum ini menggunakan fase, maka sudah diingatkan bahwa bila sikap tidak berubah di kelas dua, maka kemungkinan besar akan tinggal kelas. Ibu kepala sekolah ikut turun tangan berkali-kali, bicara dengan nada yang rendah, penuh empati namun terdapat subtle threat namun tidak juga membuahkan hasil. 

Pernah juga anak ini memukul dan menendang kawannya yang lain karena tidak sengaja tersenggol. Saya konfirmasi kejadian tersebut kepada para kawannya selaku saksi mata. Mereka mempunyai jawaban yang seragam yaitu: "D yang salah, Bu," lalu mengalirlah cerita anak-anak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan giliran pertama seperti ibu-ibu di pagi hari yang minta dilayani duluan di warung sayur. 

Sikap, suara saya tegas saat mengahadapinya. Saya sudah tebak, besok pasti anak ini tidak muncul lagi di sekolah besok. Sekali lagi saya tegaskan "besok" di sini jangan dianggap 1 hari. Minimal 3 hari lah. Tebakan saya tidak meleset. Esoknya pada siang hari, ayahnya menelepon. Secara detail saya tidak ingat yang dikatakannya tapi ada hal yang membuat saya sedikit naik pitam karena ada kata-kata seperti templete: "anak saya nggak akan mulai kalau nggak diganggu duluan" dan hal seperti "kena marah guru."

 I was mentally exhausted of this crazy behavior dan ditambah sikap defensif dari orang tua yang -menurut saya- tidak sync dengan sikap sekolah, made me wanna exploded. Saya hanya ingat dua point yang saya katakan saat itu untuk breaking his excuses: "Anak bapak agresif, tidak bisa tersenggol dikit. Dia bisa menendang dan memukul kawan lain karena hal kecil. Dan soal dimarahi guru, kita semua yang pernah sekolah pasti paham kalau guru marah, pasti ada alasannya." He backed off and agreed with the arguments I delivered. 

Ketika naik kelas dua, saya juga menginfokan mengenai sikap anak ini kepada guru kelas 2. Dan.... sesuai prediksi, tidak ada perubahan sikap sama sekali. Konsekuensi harus diterima. Tinggal kelas.

Yes, 2024/ 2025 saya mendapat amanat mengajar kelas 2.

Awal masa MPLS anak ini tidak datang. Tidak juga ada kabar. Saya menanyakan via teks. Si ibu menelpon mengatakan bahwa tadi men-drop anaknya ke sekolah tapi anaknya ternyata pulang lagi. Saya pesan pada sang ibu untuk hari selanjutnya serahkan kepada saya secara langsung.

Besoknya saya stood by di gerbang depan sekolah. Saya tunggu tapi tidak muncul juga. Saya pikir mungkin tidak masuk lagi. Tapi kemudian ada seorang siswa menginfokan bahwa ada ibu dan anaknya di lantai 2. Saya bergegas ke lantai 2. D dan ibunya sudah di sana. Dilihat dari mimiknya, D terlihat tidak happy dan sifat pembangkangnya terlihat jelas di wajah. Tantrum mulai muncul. Saya minta Sang Ibu untuk tinggalkan anaknya di sekolah karena tampaknya kalau ada sang ibu, lebih berulah. Karena menjadi tontonan, saya bawa ke dalam kelas. Tantrum makin menjadi. Untungnya badannya kecil jadi tangannya masih bisa saya tahan. Ketika dia bergerak meronta, keluar aroma tubuh yang, ehm... yah, tidak menyenangkan. Saya ajak bicara baik-baik di antara amukannya. Jujur saya agak jaga jarak, selain karena aroma, juga jaga-jaga dari kemungkinan kena tendangan. D tidak teriak, hanya menangis kesal. Keuntungan untuk saya menyampaikan harapan saya kepadanya. Hal kecil, seperti "tenang dulu," "kasih tahu ya D maunya apa." Ada perkataannya yang saat itu membuat saya sedikit kesal, "sekolah T*I!" katanya. Saya jawab sedatar yang saya bisa, "kalau sekolah t*i, guru-gurunya apa? Murid-muridnya apa?" Untungnya dia tidak menjawab pancingan saya. Kendali dirinya masih bagus (ketika sampai di rumah, saya ceritakan kepada mama saya sambil terkekeh tentang makian anak tadi, mama saya terbahak mendengarnya. Mama bilang seumur-umur ngajar belum pernah ketemu anak seperti itu). Wajahnya masih keras setelah nyaris 30 menit. Lalu saya biarkan tingalkan dia. Saya tahu di pulang ke rumah. Setelah sekitar 5 menit, saya telepon mamanya dan menceritakan tentang makian tersebut dan mengabarkan bahwa anaknya pulang ke rumah.     

Besoknya ayah dari D mengantar ke sekolah. Terlihat ayahnya kurang sehat. Namun terlihat sang ayah adalah sosok yang ditakuti oleh anak ini. Beberapa kali sang ayah menyentil mulut anaknya dan sang anak berteriak kesakitan. No judgment here, tapi memang parenting bukan hal yang mudah. I am not a parent myself but I can tell that parenting is super hard!

Setelahnya, kembali 6 pasang mata berdiskusi di ruang kepala sekolah, ibu kepsek, sang ayah, dan saya. Masih tentang hal yang sama. D di atas dihandle oleh guru kelas 6 dan seorang shadow teacher.

Relapse

Setelah pembelajaran berlangsung, ada hal-hal yang perlu ditanyakan mengenai data D, namun WA tersebut tidak dibalas. Ya sudah, pikir saya. Yang penting anaknya masuk. Rencana saya saat itu adalah memasangkannya dengan anak lain yang sifatnya bertolak belakang dengan D. Mereka klik.

Rencana selanjutnya saya sampaikan kepada kepala sekolah untuk mengajaknya makan di luar bersama kawan barunya. Tujuannya supaya mereka lebih saling mengenal dan saya menunjukkan gesture peduli dan bersedia mendengarkan. Kami makan di tempat siap saji. D bercerita bahwa ayahnya menjadi petugas parkir di toko sebelah tempat kami makan. Saya memuji ayahnya yang bekerja keras untuk D dan menyampaikan harapan saya agar D menjadi lebih dari ayahnya. Mereka bercanda dan bicara selayaknya sobat lama. 

Makanan yang dipesan adalah menu untuk anak-anak namun cukup besar. Makanan itu tidak mampu dihabiskan. Ditutupnya bowl tersebut. Saya tanyakan untuk siapa makanan itu. Dijawabnya, "untuk mama sama ade." See? Dia sangat sayang kepada mamanya. 12 Juli 2024. Terlihat sempurna. Dan berharap terus lancar. 

Namun harapan bisa meleset. Beberapa hari kemudia D tidak masuk, diinfokan sakit. Sang kawan baru mengatakan kangen dengan D, lalu saya videokan dan kirim ke D. Simbol bahwa ada kawan yang peduli. You are not alone.

Lalu D masuk kembali beberapa hari. Dan tidak masuk lagi tanpa inisiatif dari orang tua untuk mengabari. Lalu saya mengirim teks: Bismillah. Assalamualaikum. Mama D, mohon bila D tidak masuk lebih dari 2 hari, membawa surat keterangan dokter atau akan ditulis tidak masuk tanpa keterangan (alpa). Bila semester 1 alpa selama 30 hari, maka mohon maaf bila konsekuensinya sama seperti tahun lalu. Terima kasih."

Sang ayah menelpon, mengabarkan bahwa saudaranya meninggal dunia. 

Baiklah, apakah anak perlu bolos selama 4 hari karena itu? Apakah tidak ada kepedulian untuk mengabari pihak sekolah sebagai simbol menghargai institusi? Apakah sekolah dilihat hanya sebagai pengisi waktu luang yang kapan saja bisa ditinggalkan?

Baiklah...

Rencana lain saya buat. Kali ini fokus pada hygiene D karena info dari guru PAI, anak ini tidak pernah mandi saat ke sekolah. Saya diskusikan hal tersebut kepada ibu kepala sekolah dan mendapat respon positif, dengan masukan bahwa sebaiknya kegiatan menggosok gigi dilakukan di sekolah agar bisa terawasi dan bila melibatkan para siswa lain. Hal ini jujur saja belum bisa terlaksana.

Akhirnya saya menjaknya untuk ke swalayan, memintanya untuk memilih sampo dan pasta gigi yang diinginkan. Saat itu D terlihat bingung memilih sampo. Akhirnya, dengan suara yang dibuat excited saya mengatakan, "eh... ini sampo yang keponakan aku pakai. D mau yang gambar apa? Spiderman atau Batman?" Dia memilih Batman. Setelahnya saya katakan bahwa mulai hari Senin (kami ke swalayan hari Jumat) saya akan membaui rambutnya. Tanggal 5, 6, 7 Agustus kembali tidak masuk. Tanggal 8 Agustus saya mengajak 3 guru lain untuk home visit ke tempat D sekaligus menjenguk dua siswa lain yang sakit. Tanggal 9 D masuk.

Tanggal 12, 13, 14 Agustus kembali D tidak masuk. Tanpa kabar. Enough!

Kamis, 15 Agustus, saat lomba, D muncul dan mengikuti lomba. It's so weird! Saya menggelengkan kepada tidak mengerti. Ada orang tua yang mendukung anak sekolah hanya ketika ada event yang disukai. 16 Agustus, kembali tidak masuk tanpa kabar. 

Kesabaran saya nyaris mendekati limit. Saya katakan kepada diri saya, bila Senin kembali tidak masuk dan tanpa kabar, ok, that's it! Enough is enough!

Senin, 19 Agustus 2024, Pukul 09.29 saya mengirim pesan:

Bismillah. 

Assalamualaikum. 

Semoga D dan keluarga dalam keadaan baik.

Ayah/ Ibu D, 

Saya telah hitung ketidakhadiran D sampai hari ini, total 12 hari. Maaf sekali, ini jadi WA pengingat terakhir karena sudah dua tahun berturut-turut D melakukan pelanggaran aturan sekolah yang sama dan tampaknya tidak diindahkan.

Kami sudah mencoba melakukan pendekatan mulai dari kunjungan rumah, menyediakan guru khusus tapi tidak ada respon yang sesuai dari pihak D.

Dan bila dalam 1 semester ini ada 30 hari tidak hadir tanpa info dan bukti, konsekuensinya sama seperti tahun kemarin.

Mohon dimaklumi Pak/ Ibu.

Terima kasih.

Wassalam.

Pesan terkirim. Dua checklist abu-abu. Terlihat online. Status nyaris muncul tiap hari. Gambar sang ibu selfie. You had time to upload status but didn't bother to spare your precious-one-minute to inform school about the absence of your kid? Something wrong with you, parent!!!

Tebak, berapa hari kemudian baru mendapat respon?

Tanggal 29 Agustus saudara-saudara!!! The next frea*ing 10 days!!

Sang ayah menelepon pukul 09.03. Saat itu saya sedang zoom yang tidak bisa ditinggal dan kondisi sedang migrain setelah sebelumnya puke. Saya meminta tolong Pak Zoel, selaku shadow teacher untuk mengangkat teleponnya. Nice coincidence. Alasan dari ayahnya, D sakit korengan (oh, please), Pak Zoel meminta surat sakit. Dikatakan oleh ayah D, kalau baru akan berobat (oh please!). Bukan soal sakit, tapi ignorance-nya yang super besar itu yang tidak bisa ditoleransi. Butuh 10 hari ini merespon? Sementara selalu ada waktu untuk selfie dan upload selfie (oh, please!). Enough for the BS!

Awal September ini ada perpanjangan KJP. Nama D muncul dan dibutuhkan tanda tangan wali kelas. Maaf, untuk saya, ada siswa lain yang lebih layak mendapat bantuan. Mereka yang betul-betul peduli pendidikan. Info dari orang tua lain pun, memang sang ibu tidak kooperatif namun ketika diberitahukan tentang KJP, responnya sangat cepat.

Tadi siang saya menandatangani syarat KJP peserta didik lain. Untuk D, saya hold dulu. Jujur, saya menolak untuk tanda tangan. Bahkan menolak untuk berurusan dengan orang tua tersebut. Kalau soal D, tetap saya perlakukan sama seperti siswa lain, tetap diberi motivasi, tetap ditanyakan apakah kamu sarapan tadi pagi, tetap ditanyakan bagaimana perasaan kamu hari ini? Tetap diajak untuk les. Sama saja. Hanya perlakukan pada orang tua yang berbeda.

Kalau saya tanda tangan dokumen tersebut, pesan yang akan ditangkap adalah: anak saya gak apa-apa tinggal kelas, jarang masuk, gak kasih kabar, baju anak berantakan, anak nggak mandi saat ke sekolah, yang penting KJP tetap cair. 

Sikap menyepelekan itu akan tumbuh dan makin kuat. Saya rasa guru punya bergaining power untuk ini.

Adios.5/09/2024.

 



 



  

0 comments:

Post a Comment