twitter
rss



Hari Kamis tanggal 23 April 2020, sehari sebelum Ramadan 1441 H, kami para guru dan staf dikejutkan oleh sebuah berita duka cita dari salah seorang wali murid kami siswa kelas 4. Rahimahullah ibundanya meninggal dunia. Berita yang sampai kepada kami adalah, rahimahullah merupakan PDP. Beliau sudah masuk perawatan rumah sakit selama beberapa waktu karena gangguan pada paru. Tepatnya apa, saya tidak mengetahui dengan detail. Hanya saja yang saya ketahui, sebelum ada perintah dari Gubernur DKI untuk belajar dan bekerja dari rumah (yang dimulai pada tanggal 14 April 2020, kalau saya gak salah ingat ya) rahimahullah memang sudah dirawat. Saat itu jumlah grafik mereka yang terinfeksi tinggi, jumlah kematian lebih besar dari mereka yang sembuh. Rasa ingin takziah besar, namun rasa waspada, menjurus ke arah takut, lebih besar. Sangat manusiawi, menurut saya.

Rahimahullah sebenarnya dinyatakan meninggal pada 22 April 2020 pukul 20.00 WIB, namun kami mendapat informasi esok harinya dan beliau dimakamkan di TPU Pondok Rangon. Mereka yang diperbolehkan ikut hanya suami dan anaknya. Itupun mereka hanya bisa melihat dari jauh. Mendengar tiap kematian yang terjadi karena kasus ini sudah cukup membuat sedih, apalagi ditambah dengan kematian orang yang kita kenal.   

Tentang kematian ibunda dari siswa tersebut saya share di grup kelas saya, namun tidak saya sertakan nama dan kelas. Ada seorang wali murid yang bertanya orang tua dari kelas berapa, saya hanya menjawab, "kelas atas," dan meminta maaf karena tidak bisa menyebutkan nama karena status ODP pasti membuat dia makin sedih setelah sebelumnya ditingal ibunya untuk selamanya. Saya share berita tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.

Wali murid yang lain bertanya, "orang tua dari kelas kita?"
Saya menjawab, "Bukan. Jangan. Kelas atas."
Maksudnya, bukan dari kelas kita, jangan dari kelas kita, tapi yang meninggal adalah orang tua dari siswa kelas atas. 

Qadarallah, hari Senin sekitar pukul 08.30 pagi, di grup kelas terdapat pemberitahuan bahwa salah satu ayah dari siswa di kelas saya meninggal dunia karena penyakit jantung. Berita tersebut saya forward ke grup sekolah (ini sebagai bentuk simpati dan partisipasi kita untuk sedikit meringankan bebannya dengan cara chipping in untuk keluarga yang ditinggalkan). Ada rasa ingin takziah, tapi karena sedang PSBB dan belum ada berita tentang redanya pandemi, rasa waspada dan takut terhadap virus tersebut muncul, walaupun dalam hati saya ingin sekali tidak takut.

Uang donasi dari para guru telah terkumpul dan tinggal disalurkan kepada keluarga. Qadarallah, hujan nyaris seharian mengguyur Jakarta dan uang tersebut tertunda untuk ditransfer oleh Bu Roziah selaku guru agama (pengumpulan dana melalui guru agama).

Esoknya di sekolah ada kegiatan menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk sembako kepada beberapa siswa yang membutuhkan (tiap kelas terdapat dua siswa yang mendapat bantuan, hal ini dikarenakan sumber dana yang terbatas, iuran berasal dari dana pribadi para guru dan kepala sekolah). Ada 13 rombel disana, jadi 26 paket sembako plus tambahan bantuan untuk mereka yang yatim. Bukan jadwal piket saya hari itu, tapi jauh hari saya sudah menawarkan diri sebagai kurir penyaluran sembako untuk mereka yang saya tahu lokasi rumahnya, dibantu oleh seorang guru olahraga. Lumayan dapat menghirup udara di luar.

Setelah menyalurkan bantuan sosial tersebut pada beberapa anak yang saya tahu rumahnya, barulah saya dan Bu Dina, guru olah raga, bertakziah ke rumah siswa yang baru saja ditinggal ayahnya tersebut. Sedikit ada was was yang tersisa tbh, apalagi saya tahu bahwa pemakaman berada di TPU Pondok Rangon. Saya tahu juga bahwa prosedur dan pemakaman pasien dalam masa pandemi dialihkan ke dua TPU yaitu Pondok Rangon dan TPU Tegal Alur di Jakarta Barat terlepas diagnosa terakhir positif atau negatif covid-19. Peraturannya seperti itu. Pikiran tersebut tidak seluruhnya menghilangkan rasa waspada saya yang saya sampaikan juga kepada guru olah raga dan guru agama.

Bismillah. Akhirnya Bu Dina dan saya ke rumah siswa tersebut. Raut kesedihan masih terlihat jelas pada wajah istrinya, anak sulungnya yang berusia 20 tahun, serta anak bungsunya yang berusia 8 tahun (siswa saya tersebut).

Mulailah diceritakan awal mula sakitnya. Sang suami memang mempunyai penyakit diabet dan darah tinggi. Mungkin karena faktor kelelahan dan stress yang cukup intense, membuatnya kolaps. Rahimahullah sempat meracau saat tubuh bagian bawahnya mulai dingin dan mengatakan kalau meninggal tidak ingin dimakamkan di tempat yang jauh maupun dikampungnya karena tidak ingin merepotkan keluarga yang ditinggalkan. 

Beliau meninggal di rumah sakit dan rumah sakit mengurus jenazahnya serta memakamkannya di Pondok Rangon, sesuai keinginan Rahimahullah yang tidak mau merepotkan keluarga yang ditinggalkan (dalam hal ini istri, dan dua anaknya).

Sang istri mengungkapkan kesedihannya karena stigma di masyarakat yang menduga suaminya meninggal karena covid-19, hal itu membuatnya makin terpuruk karena, dapat dipahami, pada saat itu tiap orang pasti butuh support, a shoulder to cry dan bukan pandangan takut-takut akan tertular virus. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kondisnya memang mengharuskan kita semua untuk waspada.

Sang ibu mengatakan bahwa mereka akan pindah ke kampung halamannya dan anakya akan pindah sekolah. Saya mendukung langkah tersebut kalau memang itu menjadi hal yang harus dilakukan, apalagi tidak ada laki-laki yang bisa menaungi mereka dan tulang punggung keluarga beralih kepada ibu dari anak-anak tersebut. Sang ibu juga mengatakan bahwa untuk makan mungkin masih sanggup dipenuhi, namun bila ditambah sewa tempat tinggal, akan sangat berat, sementara sang anak sulung belum bekerja.

Sang ibu mengatakan mereka akan pindah begitu urusan si anak sulung selesai. Saya hanya bisa mendoakan agar semuanya berjalan lancar dan memberikan mereka pelukan, berharap mereka selalu mengingat Allah agar selalu kuat.

Satu point yang perlu diberi penekanan disini. 
Sang ibu bersyukur bahwa sang suami meninggal dan dimakamkan di Jakarta, karena bila dikampungnya, biayanya akan sangat mahal. Beliau menceritakan bahwa sekitar sebulan sebelumnya, ibu dari sang suami meninggal dunia di kampung. Keluarga mengelurkan sekitar 15 juta untuk penguburan dan acara budaya sehari, 2 hari, 3 hari, 7 harian. Beliau mengatakan, sekali orang-orang datang, menghabiskan 3 juta, nilai itu bukan hal kecil bagi keluarga mereka (termasuk bagi saya). Acara tersebut reguler, jadi walaupun tanpa diundang, warga desa akan datang pada keluarga yang sedang berduka, dan keluarga tersebut mau tak mau harus menyediakan makanan untuk warga yang datang. WEW!!!                 

Entah kapan pandemi ini akan berakhir. Walaupun jumlah pasien covid-19 dikabarkan sudah flat dalam 2 hari ini, PSBB masih dilanjutkan sampai tanggal 22 Mei 2020. Pemerintah daerah sudah berikhtiar dengan keras dan baik dalam menanggulangi pendemi ini. Begitupun tim medis serta mereka yang bekerja dalam lingkungan medis. Semoga lelah kalian semua diganjar dengan pahala berlimpah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Lekas pulih Indonesiaku.

S.A

0 comments:

Post a Comment