بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Hari ini, Jumat 27 Maret 2020 merupakan hari ke-10 learning from home atau belajar di rumah karena kondisi tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa di sekolah. Untuk kami para guru tetap membimbing dan mengingatkan para siswa untuk belajar. Well, sebenarnya sih lebih cocok namanya 'memberikan tugas melalui on line' daripada 'belajar on line' :D. Ada pembelajarannya, namun sangat minim. Misal nih, saya menghandle kelas 3, kebetulan ada materi menghitung keliling, nah karena itu merupakan materi baru, ya saya tuliskan cara menghitungnya dan sekaligus memberi contoh. Banyak orang tua yang paham sebenarnya, satu atau dua saja yang butuh penjelasan. Alhamdulillah cooperative, sebagian besar.
Teknisnya kita perlu mengabsen siswa melalui WA group dan mereka menjawab dengan cara menuliskan namanya masing-masing disana lalu dilanjutkan. Namun jujur, saya tidak melakukan itu karena tidak semua anak memegang ponsel orang tuanya pada saat kita memulai LFH. Jadi yang bisa saya lakukan adalah; menyapa mereka dan mendoakan semuanya semoga semua dalam keadaan sehat, lalu menjelasakan materi yang akan dipelajari serta jenis evaluasi yang perlu diberikan dalam bentuk tertulis maupun video atau audio. Mereka tidak memberikan tugasnya pada saat bersamaan. Ada yang segera, ada pada sore hari, bahkan ada yang malam hari. Pernah saya mendapat WA malam hari yang berisi, "Maaf, baru bisa mengumpulkan sekarang karena ponselnya di bawa bapaknya untuk kerja."
Saya maklum.
Pada hari-hari pertama ketika excitement masih ada dan atmosfer kepanikan masih sangat kental, responnya sangat banyak dan cepat, namun seiring dengan berjalannya waktu, respon biasa saja (saya bersyukur justru dengan kondisi ini karena pusing juga mendapat WA yang banyak pada waktu yang nyaris bersamaan).
Kemarin saya mendapat forwarding WA (sayangnya sudah saya hapus namun masih ingat garis besarnya).
WA itu berisi berita tentang surat keberatan orang tua untuk dinas pendidikan setempat karena tugas yang dibebankan pada siswa sangat burdening, misal: sebuah SMA di Jakarta menugaskan para siswanya untuk membuat karya tulis tentang covid-19 dalam jangka waktu 3 hari serta membuat videonya dan, yang lebih buruk lagi, video tersebut harus di upload di IG dan harus mendapatkan minimal 200 likes. NUTS!
Ada juga siswa kelas 3 yang dibebani tugas sebanyak 250 soal. WHAT?????
Membaca hal tersebut saya berpikit "kalau seandainya siswa itu adalah saya sendiri, apakah saya sanggup mengerjakan itu semua?"
Waving a white flag.
Saya nggak sanggup deh.
Tapi ya khusnudzon aja, pasti karena gurunya sangat concern dengan pendidikan para siswanya dan tidak ingin membuang waktu karena banyak materi yang perlu dikejar. Apapun alasannya, minumnya teh botol sosro, enggak deng. Apapun alasannya, insha Allah niatnya baik. Khusnudzon aja.
Bagaimana dengan saya pribadi.
Ah, skip lah. Yang pasti jauh dari 2 kasus tersebut. I am not that dilligent. Maafkan aku, wahai siswa/i ku.
Dilain pihak, ada juga orang-orang yang, well, bagaimana saya harus sebutnya yah? 'Dungu' kalau saya boleh meminjam istilah Pak Rocky Gerung. Ada seorang yang membuat status di FB "Anak-anak libur panjang di rumah, guru-guru gaji buta." Hehe dia nggak tau kalau LFH itu lebih puyeng.
Semoga hacker pengecut yang membuat status itu yang menggunakan foto perempuan berjilbab mendapat hidayah atau mendapat balasan setimpal karena bikin rusuh dan menyebarkan fitnah.
Udah dulu ah. No idea hari ini.
Stay safe and have a nice day.
|