twitter
rss





Masih tentang para siswa yang dilakukan pemeriksaan.
Selanjutnya adalah seorang siswi berinisial Sy.

Tadi siang, ketika kelas berakhir, ibu dari Sy menemui saya dan sharing.
Tapi sebelumnya flash back dulu.

Cuss....

Minggu pertama menghandle kelas 3, saya sudah targetting 3 siswa yang saya duga kuat merupakan mereka yang spesial. Dan dugaan saya (Alhamdulillah, atau astagfirullah?) tidak meleset. Pendekatan dilakukan pada orang tua ketiga siswa tersebut saat penerimaan rapot semester I.

M dan Ns menerima langsung dengan baik dan bahkan terkesan 'pasrah.'

Ibu dari Ns berucap dengan bijak, "Saya ikut apa kata ibu saja, selama itu baik untuk anak saya."

Baiklah kalau begitu. Bungkus!

Respon dari Ibu M, sambil menangis beliau mengatakan, "saya single parent, saya mengalami KDRT dan M menyaksikan itu saat usia M 5 tahun. M jarang bicara, saya ingin dia lebih terbuka kepada saya dan memberi tahu saya kebutuhannya. Saya memang berpikir untuk mencari psikolog untuk anak saya tapi saya gak tahu harus kemana."

"Saya akan buat appointment dengan klinik, insha Allah akan segera saya konfirmasi segera kepada Mama M. Semoga diberi kelancaran," respon saya. 

Respon dari Ibu Nk sedikit berbeda, tidak langsung mengiyakan, tapi tidak menolak juga. Saya berpikir mungkin masih dalam tahap denial atau bargaining karena anak sulungnya (yang sekarang kelas 6) juga merupakan anak spesial dan saya mengerti bahwa keadaannya berat untuk beliau menerima anak bungsunya spesial juga. 

Namun akhirnya beliau setuju.

Appointment pun dilakukan.
2 spots Alhamdulillah kosong, langsung saya daftarkan M dan Ns lalu schedule mereka dibuat. Prosesnya cukup cepat termasuk school visit dan home visit.

Ketika kedua kali saya kesana untuk meng-assist M, saya sempatkan ke bagian receptionist untuk menanyakan apakah ada spot kosong lagi. Alhamdulillah ada. Nama Nk saya masukkan. Namun sayangnya karena jadwal yang cukup mendadak, orang tua dari Nk coulnd't make it, jadilah nama Sy saya masukkan.

Sedikit ragu sebenarnya saat saya masukkan nama Sy karena kemampuan membacanya baik, jauh lebih baik dari M, Ns, dan Nk yang baru mengenal huruf walaupun telah kelas 3. Namun hal lain yang mendorong saya memasukkan Sy adalah komunikasi verbalnya yang sedikit sulit, Sy terlihat rapuh, sensitive, serta mudah emosional (menangis). Ketika ditanyakan tentang hal seputar dirinya, Sy lebih sering berkata, "nggak tau." Kepribadian yang tertutup kadang membuat saya sedikit creepy, apalagi untuk mereka yang berusia muda. Tiap orang butuh shoulder to cry, someone to talk, tak peduli dewasa, apalagi anak-anak yang kadang masih blur dalam membedakan hal yang benar dan yang salah.

Hal lain adalah span ingatan Sy pendek. Namun secara tingkah laku, Sy sangat manis, penuh inisiatif. Sy seperti tidak bisa melihat meja saya ada buku siswa. Sy selalu menawarkan diri untuk membagikan buku-buku tersebut. Sering kali saya tolak. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja memang buku-buku itu belum sempat saya koreksi. Masa iya belum dikoreksi sudah dikembalikan?

Selain itu, Sy juga tidak bisa melihat whiteboard terlihat kotor, Sy selalu menawarkan diri untuk membersihkannya. Saya selalu happy dengan inisiatifnya. "Boleh dihapus, terima kasih, Sy." Jawab saya tiap kali. Dengan lincah Sy menghapusnya, bahkan kadang respon tidak senang muncul bila ada kawan lain yang ikut menghapus whiteboard. She is so cute.

Tadi pagi, sebelum bel masuk, saat saya sedang menyiapkan audio untuk senam bersama, Ibu dari Sy mendekati saya mengatakan bahwa ada hal yang perlu disampaikan sehubungan dengan hasil dari test Sy. Saya tawarkan setelah senam, karena saya free saat itu. Jadwal siswa saya setelah senam adalah olahraga dengan Ibu Dina. 

Ibu dari Sy memilih untuk nanti, setelah pulang. Saya mengiyakan.
Saya sedikit meminta clue tentang hasilnya.

Beliau mengatakan, "Hasil test-nya 6 koma 3."

Saya bingung, "Ha? Enam puluh tiga, maksudnya?"

"6 koma 3 atau enam puluh tiga, saya lupa," jawabnya lirih. Terlihat air mata sudah menggenang dimatanya.

Saya menyentuh lengannya dan tersenyum, mencoba bersimpati, "Semangat ya Mama Sy! Nanti kita bicara ya." Beliau pun pamit pergi.

Sekitar pukul 11.00 hujan turun dengan deras. 
Pukul 11.30 saya menggoda para siswa, "Nggak usah pulang ya?"
"Yaaahhhhh......" Protest mereka.
"Hujan. Nggak bisa pulang. Di kelas aja." Kata saya
"Gak apa-apa! Saya bawa payung." Teriak seorang siswa.
"Saya bawa jas hujan," balas seorang siswi sambil mengangkat bungkusan di atas mejanya.
"Ha? Oh, saya kira itu isinya kotak makan."
"Bukan. Ini jas hujan."
"Ok. Pulanglah kalau begitu."

Pukul 11.45 kelas dibubarkan. Seperti biasanya kami membaca Al Asr dan doa keluar rumah lalu kami bersalaman dan mereka diingatkan untuk sholat.

Hari ini les diadakan mulai pukul 12.30. Jadi saya masih ada waktu sekitar 40 menit sebelum les dimulai.

Ketika sampai di lantai 1, saya langsung dapat meng-spot mama dari Sy. Saya menghampirinya dan mengajaknya ke lab untuk berbicara (sengaja saya tidak bawa ke kelas karena ada beberapa siswa yang stand by disana menunggu waktu les. Saya khawatir Mama dari Sy menangis di kelas dan disaksikan para siswa. Lab sedang tidak digunakan dan cukup tertutup).

Dari raut wajahnya sudah jelas terbaca bahwa dia down. Kata-katanya tidak beraturan, sedikit gagap, gesture gelisah, air mata tertahan dimatanya. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya air matanya betul-betul turun tanpa bisa dibendung.

Beliau menceritakan bahwa pertemuan kemarin dihadiri oleh dirinya dan ayah dari Sy.
Saya memujinya dan mengatakan itu adalah hal yang bagus karena kerjasama antara dua orang tua insha Allah akan membawa perubahan lebih baik.

Cerita setelahnya adalah hasil test menunjukkan 60an dan disarankan dalam dua tahun mendatang dikonsulkan lagi atau retest. Bila telah dilakukan retest, Sy dianjurkan masuk ke sekolah khusus siswa spesial.

Masalahnya tidak terbatas disana.
Terlihat bahwa Mama Sy struggling untuk berada pada tahap acceptance. Selain karena hasil tersebut, juga ada kata-kata dari sanak family yang menyinggung kemapuan anaknya. Disinggung juga reaksi anak sulungnya dan bagaimana coping Mama Sy dalam menghadapi situasi tersebut.

Dia seorang wanita yang kuat.

Beberapa point yang tertangkap adalah Mama dari Sy meminta saya lebih membantu Sy dan meminta pertimbangan saya tentang langkah yang perlu diambil. Saya katakan bahwa salah satu cara saya dalam membantu para siswa adalah dengan mengadakan les tambahan setelah kelas usai selama satu jam, tidak memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi dari prestasi akademik, namun lebih fokus sikap positif yang ditunjukkan Sy. Saya juga mengingatkan untuk tidak membandingkan prestasi belajar anak sulungnya dengan Sy walaupun dengan maksud memberi motivasi. Untuk beberapa orang, dengan membandingkan performance, bisa jadi pecut untuk bekerja lebih baik, namun bagi orang lain, dibandingkan dengan performance orang lain, apalagi sibling, itu merupakan nightmare yang bisa merusak motivasi dan mood.

Air matanya terus turun dan dihapusnya berkali-kali. Gesturenya gelisah. Kursi kantor yang didudukinya sedikit digoyangkan berulang-ulang.

Adzan dzuhur berkumandang.

Dengan tidak bermaksud menggurui, saya katakan, "Mama Sy, di mata masyarakat, sekolah SLB itu adalah sekolah tempat anak-anak yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi kenyataannya bukan seperti itu. Sekolah tersebut memiliki jenjang dan lebih bisa menggali potensi siswa. Di sekolah umum, siswa belajar konversi dari KM menjadi CM, atau menghitung volume kubus. Seberapa sering sih kemampuan itu digunakan ketika kita terjun ke masyarakat? Mungkin dengan sekolah khusus, Sy bisa dilatih untuk menghitung yang lebih real menggunakan kalkulator. Mungkin Sy suatu hari membuka usaha laundry, yang dibutuhkan adalah kemampuan dalam menghitung biaya listrik atau jumlah pelanggan dikalikan perkilo pakaian. Ujung-ujungnya apa sih? Anak mandiri. Sy mungkin tidak bekerja sebagai dokter atau guru yang mempunyai gaji, tapi Sy pasti mempunyai rezeki. Tiap anak sudah dijamin rezekinya. Tugas Mama Sy adalah mendoakan dan mengingatkan Sy untuk sholat karena doa seorang ibu pasti diijabah. Soal omongan orang lain yang buruk, insha Allah disabari saja, insha Allah Mama Sy sekeluarga akan diangkat derajatnya karena sabar."

"Ini bulan February. Masih ada beberapa bulan ke Juni. Selama itu saya Insha Allah masih mendampingi Sy. Lagipula Mama Sy masih terlihat sedikit emosional, jadi lebih baik tunggu dulu. Jangan ambil keputusan terburu-buru. Lagipula dua tahun lagi akan kembali dilakukan test. Insha Allah pada saat itu Mama Sy sudah bisa sepenuhnya menerima hal ini. Untuk sekarang, tenangkan diri dulu."

Mama Sy mengakui bahwa dirinya masih belum sepenuhnya bisa men-digest kondisi tersebut.

Setelah beberapa detik keheningan, akhirnya saya tanyakan, "Ada lagi yang perlu ditanyakan?"

Mama Sy mengatakan tidak ada lagi. Kami pun bangkit dari kursi lalu bersalaman.

"Semangat ya, Mama Sy."
Dia mengangguk sambil tersenyum. Kami pun berjalan keluar dari lab.

Saat ini dibuat, saya belum mendapat panggilan untuk diskusi hasil test dari Sy.
Apapun hasilnya, Sy tetap adalah anak yang manis dan penuh semangat serta inisiatif. 

Success is waiting for you on the corner, dear Girl! Keep praying and do your best!

Love,

Your teacher

2020-02-04   
 

 















0 comments:

Post a Comment