twitter
rss


List selanjutnya.

Hari Jumat, 07 February 2020 lalu saya kembali ke Klinik Terpadu. Kali ini untuk mengambil hasil test yang dilakukan pada Jumat sebelumnya.

Ada dua siswa yang dilakukan test, Al dan Rr. Keduanya mempunyai masalah yang sama, yaitu prestasi belajar. Bedanya adalah, Rr mempunyai kepribadian yang terbuka, cuek, tahan banting, siap menerima kritik, dan mudah beradaptasi. Sementara Al sebaliknya, cenderung tertutup, sensitif terhadap lingkungan sekitar, dan sangat peduli terhadap penilaian orang terhadapnya, baik yang dikatakan maupun gesture seseorang. Namun keduanya sama-sama mempunyai semangat belajar yang baik.

Pertama kali menghandle kelas mereka, jujur saya tidak terlalu spotting Rr atau memberi perhatian khusus karena terlihat berada di rata-rata. Setelah beberapa kali melakukan evaluasi, akhirnya saya putuskan untuk berdiskusi dengan orangtuanya.

Chance nya saat penerimaan rapot. Saya katakan concern saya terhadap Rr kepada ibunya. Ibunya dengan lapang dada mengakui bahwa anaknya memang 'ada sesuatu.' Jujur saya gak terlalu paham 'ada sesuatu' itu tepatnya apa, tapi saya pikir itu seperti mother instinct yang kadang sulit diterjemahkan secara verbal.

Sang ibu sedikit heran karena perubahan prestasi belajar Rr sangat berbeda dibanding ketika Rr masih di kelas rendah. Sang ibu mengatakan ketika kelas dua, nilai yang Rr selalu dapatkan adalah 90 dan ia mengingat-ingat beberapa kejadian yang memungkinkan Rr mengalami kesulitan belajar, salah satunya adalah kejadian dimana Rr dipukuli oleh 4 orang anak dan mereka memukuli kepala Rr. Ketika Rr sampai di rumah, Rr mengeluh pusing dan muntah. Dikatakan hal itu terjadi sekitar enam bulan yang lalu dan di sekitar rumahnya.

Saya tanyakan apakah sempat diperiksakan ke dokter namun sang ibu menjawab bahwa saat itu ibu dari anak-anak yang mengeroyok anaknya mengajak damai dan ditakut-takuti. Sang ibu mundur. Bukan karena gentar, namun karena melihat mereka yang mengeroyok anaknya adalah mereka yang mempunyai masalah ekonomi dan masalah keluarga. Rasa simpati masih muncul walau keadaan anaknya tidak baik. Saya speechless.

Jujur saya katakan saya tidak tahu apakah itu berpengaruh terhadap prestasi belajar Rr sekarang - walaupun saya yakin bahwa benturan pada kepala tidak bisa dianggap enteng, apalagi bila disertai pusing dan muntah. Hal itu butuh pemeriksaan dari proffesional.

Kemungkinan lain saya katakan adalah karena materi kelas rendah masih bisa di handle oleh Rr. Saya beri analogy bahwa kemampuan Rr menampung air adalah 1 gayung. Ketika kelas rendah, air yang ditumpahkan adalah sebanyak itu, namun ketika kelas 3, air yang ditumpahkan lebih dari 1 gayung, melebihi kapasitas Rr. Saat itulah masalah muncul.  

Ibu dari Rr diam sejenak lalu berkata, "bisa juga."
Saya katakan, "Kita semua punya kelebihan dan kekurangan. Kalau fokus dicari kekurangan, pasti banyak dan mudah ditemukan. Rr mungkin gak menonjol di bidang akademis, tapi pasti ada potensi di bidang lain." 

Sang ibu mengangguk setuju. "Iya ya. Kalau dicari sih, kekurangan pasti ada."

Nah... sampailah kami di ruang psikolog.
Sang ibu menceritakan hasil belajar anaknya yang berbeda 180 derajat dibanding saat kelas rendah dan juga menceritakan trauma kepala yang diduga berperan dalam penurunan hasil belajar Rr.

Psikolog mengatakan tidak bisa memastikan soal itu dan perlu pemeriksaan medis untuk mendapatkan kepastian. Tidak hanya itu, psikolog juga mengatakan ada juga kemungkinan memang sewaktu kelas rendah, Rr masih mampu memahami materi yang diberikan karena masih cenderung mudah namun ketika kelas 3, dimana materi makin kompleks, Rr keteteran. 

Sang ibu menyatakan kesetujuan.

Sepekan kemudia, kami kembali di ruang yang sama. Psikolog meminta kami menebak hasil test dari Rr setelah Psikolog menjelaskan rentang nilai IQ. Sang ibu menebak sekian. Ketika saya ditanyai, saya pun menebak nilai yang sama.

Setelah itu psikolog membuka hasilnya dan mengatakan bahwa memang kemampuan akademis Rr sekian, sesuai tebakan ibunya. Dijelaskan bahwa Rr berada pada area slow leaner dan perlu berkali-kali untuk dijelaskan dan perlu menggunakan kalimat-kalimat sederhana untuk membuatnya mengerti. Rr juga belum begitu paham konsep benar salah dengan baik jadi harus banyak diajak berpikir dan berdiskusi tentang hal-hal di sekitar sambil dijelaskan mengapa satu hal salah atau benar untuk menghindari hal-hal yang tidak baik, yang mungkin terjadi pada Rr karena ikut-ikutan atau karena diminta orang lain untuk melakukan sesuatu yang salah (hal ini menjadi salah satu concern saya ketika saya ditanya tentang Rr. Karena sudah dua kali kejadian bahwa Rr pernah melakukan hal yang kurang baik (memukul kawannya), ketika saya tanyakan mengapa hal tersebut dilakukan, Rr menjawab, " saya disuruh.").

Di balik 'kekurangan' tersebut, Rr mempunyai sikap yang baik, penurut, mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan mudah, cukup 'tahan banting', mampu menerima kritik.

Saya akui memang, ketika ditegur dengan suara yang tegas tentang kesalahannya, Rr terlihat memperhatikan dan terlihat perubahan sikap serta tidak murung setelahnya dan tidak menghindari guru yang menegur (beberapa anak akan murung dan menghindari guru saat berada pada posisi Rr).

Saat itu saya bertanya apa yang akan terjadi, seandainya, sekali lagi, seandainya, Rr tinggal kelas? Apakah akan sangat down dan apakah akan mampu mengejar ketingalannya bila diberi waktu mengulang materi yang sama setahun lagi.

Sang psikolog menjawab bahwa tiap anak yang tinggal kelas akan mengalami down, namun kemungkinan Rr akan catch up dengan kawan-kawannya dan cepat beradaptasi namun dalam soal 'mengejar ketinggalan', beliau sedikit meragukan karena merujuk dari hasil test, cukup jauh dari nilai average.

Jujur sih, saya berat untuk membuat siswa tinggal kelas (walaupun saya pernah menahan 2 siswa sebelumnya, itupun dengan pertimbangan yang sangat berat dan sampai sekarang kadang berpikir, apakah perlu hal itu saya lakukan? Salah satu siswa yang saya tahan saat itu adalah N yang tingkah lakunya memang masih sangat sangat perlu bimbingan).

Sang ibu bisa menerima kondisinya dan bertekad untuk membantu anaknya melalui saran-saran yang diberikan oleh psikolog, yang salah satunya adalah mengatur waktu belajar dengan baik.

Bukan hal yang mudah untuk diterima oleh mama Rr namun seperti anaknya, ia terlihat tegar. Entah membantu atau tidak, saat itu saya katakan, "tidak semua orang punya gaji, tapi tiap orang punya rezeki."

Entah sejauh mana hasil test ini akan membawa Rr. Saya berharap tiap hasil test yang didapatkan bukan untuk memberi dispensasi bagi anak atau orang tua untuk pasrah dan pasif karena tiap anak pasti belajar walaupun hasilnya mungkin tidak terlihat. Tidak peduli sejauh apa kemajuan yang mereka buat, yang terpenting adalah mereka tidak berhenti untuk berusaha.


Jakarta, 2020-02-10

S.A     

  







0 comments:

Post a Comment