twitter
rss




Skip dulu tentang ABK di kelas.

Kemarin, tanggal 14 February pas ulang tahun ponakan saya. Saya panggilnya Kak Nay.
Sebenarnya saya nggak merayakan ulang tahun sih, karena you know lah... tasyabbuh (kalau berbeda pendapat, gak apa2, tiap kita punya faith masing-masing). Saya katakan 'ulang tahun' disini untuk memudahkan penyampaian aja.

Nah, Kak Nay genap 9 tahun kemarin.
Untuk saya, dia The Little Survivor.
Agak lebay mungkin untuk sebagian orang, tapi kalau flash back apa yang terjadi dengan Kak Nay beberapa bulang lalu, yaaa akan mengerti mengapa dia saya sebut itu.


Awalnya bulan Juli 2019. Awal tahun ajaran.
Baru beberapa hari masuk sekolah, dikabarkan Kak Nay sakit.
Akut.

Tiba-tiba nggak sadar, kejang, dan mulut berbusa.
Kejadiannya nyaris jam 9 malam.
Ini cerita dari Mamanya, kakak ipar saya (mereka tinggal di Cibinong, saya tinggal di Pasar Minggu).

Saat itu ponakan-ponakan saya yang berjumlah 3 orang sedang bermain pura-pura tidur karena mendengar suara motor ayahnya (abang saya) yang baru saja tiba di rumah.

Seisi rumah langsung panik. Abang dan istrinya sibuk menjaga Kak Nay yang kondisinya mengkhawatirkan. Kakak ipar segera memanggil tetangga dan meminta dia untuk mengantarkan Kak Nay menggunakan mobil mereka ke rumah sakit terdekat.

Long story short,
Kesadaran belum pulih. Dari rumah sakit pertama, dirujuk ke RSUD Cibinong karena fasilitas tidak memadai. Kondisi Kak Nay masih belum sadar. Diagnosa sementara adalah epilepsi. Diberi obat anti kejang.

Beberapa hari kemudian Kak Nay diperbolehkan pulang. Istirahat di rumah selama beberapa hari, lalu masuk sekolah kembali.

Setengah hari di sekolah, Kak Nay kembali kejang. Kali ini dibawa ke RS Sentra Medika Cobinong.

Kesadarannya menurun. Antara sadar dan tidak. Bicaranya slurred. Diagnosa masih epilepsi.
DIberi obat anti kejang dan penenang.
Sedih melihat anak sekecil itu diberi obat penenang. But nothing we could do.

Selama sekitar 2 minggu dirawat, dan diperbolehkan pulang.
Selama di RS, kesadaran semakin menurun. Kadang mengamuk. Dokter mengatakan itu involuntary movements. 

Entahlah.
Pada satu malam, Kak Nay pernah berteriak keras dan mengamuk. Involuntary movements?

Yang bisa dilakukan oleh medis adalah memberikan kembali obat penenang. Ada saat dokter jaga kebingungan karena kondisi Kak Nay yang berteriak dan mengamuk pada tengah malam.

Pemerikasaan medis dan penunjangnya dilakukan. Gak ada hasil yang positif yang menunjang epilepsi. Semua normal.
Awalnya disangka virus atau TB. Dilakukan mantoux test. Negatif. 
Dilakukan pemeriksaan lumbal, negatif.

Yang kami lakukan adalah terus menerus berdoa dan mengajaknya berdoa. Ada saat kami semua down dan menangis dalam sholat kami.

Ada waktu Kak Nay tertawa dan menunjuk gambar-gambar hewan yang terdapat pada ruang perawatannya (ruang rawat hanya 1 orang saat itu). Kami menduga ini ada hubungannya dengan gaib. Bisa jadi. Entahlah. 

Flash back, yang diingat mamanya adalah, pada sore sebelum kejadian, Kak Nay bermain petak umpet dengan kawan-kawannya di sebuah rumah kosong dalam komplek perumahan mereka. Komplek itu dibatasi oleh tembok dan jalan setapak yang cukup besar. Across from the path, ada pemakaman warga. Ada hubungannya atau tidak, wallahu alam.

Sekitar 2 minggu Kak Nay dirawat, lalu diperbolehkan pulang.
Diputuskan untuk tinggal sementara di Cipinang (rumah dari orang tua kakak ipar) karena disini tidak ada garasi, sementara mobil stand by selalu untuk Kak Nay.

Long story short, Kak Nay kembali masuk rumah sakit.
Kesadaran makin menurun. Awalnya masuk rumah sakit di daerah Jakarta Timur (saya lupa namanya), namun karena satu dan lain hal, akhirnya di rujuk ke RSCM.

Saat itu banyak selang yang terhubung pada tubuh kecil Kak Nay. Monitor jantung terpasang. Mata ditutup kassa untuk mencegah infeksi karena mata yang tidak bisa tertutup sempurna. 

Katerer, NGT, infus, monitor terpasang.

Melihat kondisi anak perempuan satu-satunya seperti itu, abang bersimpuh di kaki anaknya sambil menangis. Kakak Ipar tidak berhenti berdoa dan mengulang-ulang perkataan, "maafin mama ya Nay. Maafin Mama."

Kak Nay masih sering berontak. Mamanya terpaksa menindih badan Kan Nay untuk mencegahnya membentur pinggiran tempat tidur atau mencegah copotnya alat medis. Ketika tenaganya habis, tanpa sadar kakak ipar tertidur di atas badan anaknya. Air matanya sudah habis. Nyaris 2 bulan dia ada di RS, di samping anaknya. 2 anak laki-lakinya dititipkan di rumah kami. 

Awalnya Kak Nay berada di UGD lantai I, zona merah. Lalu dipindahkan ke lantai 2, UGD anak.
Kondisi masih kritis. Setelah kerja biasanya saya langsung ke RS lalu esok paginya kerja lagi (pakaian kerja sudah saya siapkan).

Entah berapa dokter yang mengandle Kak Nay.
Selama Kak Nay dirawat, jujur, sering ada pertanyaan muncul.

"Kenapa Kak Nay diberi cobaan sakit seperti ini? Sakit yang berat, bukan diare atau tipus yang mudah disembuhkan."

Beberapa kali saya katakan kepada Kak Nay yang tidak sadar, "Kak Nay, Kak Nay diberi cobaan seperti ini karena Allah mengangggap Kak Nay mampu."

Saya menangis. Kata-kata itu lebih untuk menghibur diri saya. Pertanyaan "kenapa" terus muncul.

Beberapa hari pertama, jujur saya tidak terlalu memperhatikan kondisi sekeliling secara detail. Fokus saya ada pada ponakan saya yang terus bergerak dengan tenaga yang besar.

Ada sekitar 10 pasien anak pada ruang tersebut.
Ketika Kak Nay tertidur, barulah saya memperhatikan kondisi sekeliling.
Tepat di depan Kak Nay, ada seorang anak perempuan dengan asma yang berat. Dia tidak mampu untuk duduk. Karena duduk makin membuatnya sesak. Sang ayah yang mendampinginya terlihat sangat lelah dan tertidur. Disebelahnya, sama. Anak usia sekitar 4 tahun dengan asma dan tidak berhenti menangis. Sang ibu yang kelelahan terlihat tidak menghiraukan. Make up tebal terpasang diwajahnya.

Di sebelah Kak Nay ada seorang anak laki-laki obesitas. Entah apa masalah medisnya. Tapi dia terlihat sangat sulit bergerak. Disebelahnya lagi, anak perempuan kecil usia setahu yang terkena melena. Kondisinya sangat buruk. Darah selalu keluar dari mulut dan tiap kali buang air besar. Sang ibu sekali waktu dimarahi oleh dokter karena memberi susu pada anaknya yang memperburuk kondisi sang bayi. Ibunya hanya pasrah. Entah apa yang ada dikepalanya. tapi dia terlihat tenang. Sering kali saya melihat dia mengecek facebooknya (dia membelakangi saya, jadi saya bisa melihat jelas). Facebook dan make up mungkin bisa jadi hiburan pada saat seperti ini.

Di sebelah kiri Kak Nay ada seorang pasien perempuan berusia 15 tahun. Kurus dan tampak tidak aware dengan lingkungan sekelilingnya. Sang ibu sangat ramah dan tidak menunjukkan kepanikan seperti yang kami tunjukkan. Belakangan kami tahu bahwa sang anak sudah belasan tahun menderita penyakit tersebut dan berulang kali masuk perawatan karena masalah yang sama. Imunitas telah terbentuk, begitu pikir saya.

Scanning diruang tersebut, pandangan saya kembali kepada Kak Nay yang ekstremitasnya lebam karena selalu membentur sisi tempat tidur serta penggantian infus yang berulang kali karena selalu terlepas. Ya Allah.... maafkan hamba Mu yang tidak bersyukur, pikir saya saat itu setelah melihat kondisi anak-anak dalam satu ruang yang sama.


Saya katakan itu kepada kakak ipar saya.
"Ada yang lebih parah dari Kak Nay. Bersyukur Kak Nay masih bisa bernapas normal, walaupun kesadaran turun."

Kakak ipar saya me-reply, "iya. Alhamdulillah. Kak Nay masih beruntung."

Tapi kalau melihat mimik orang tua yang concern terhadap Kak Nay, sepertinya mereka punya pikiran yang sama dengan kami, mungkin mereka berpikir, "Alhamdulillah kondisi anak saya masih sadar, walau bernapas susah." Entahlah.

Beberapa hari kemudian Kak Nay dioper ke kamar perawatan. Orang tuanya memilih ruang yang ditempati hanya 1, untuk kenyamanan Kak Nay yang masih belum sadar. Saat itu tubuhnya sangat kurus karena sudah nyaris 3 bulan makan hanya melalui sonde lambung.

Diagnosis sudah ditegakkan saat itu: Auto immune.

Pada saat yang hampir sama, pasien di sebelah Kak Nay juga sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Mereka ada di kelas 3. Ada rasa kasihan juga melihat kondisinya yang tidak punya pilihan kecuali bergabung dengan pasien lain (biaya Kak Nay belakangan di reiburse keasuransi tempat kerja ayahnya).

Hal lain yang harusnya disyukuri.


Sekitar sebulan dirawat, akhirnya Kak Nay diperbolehkan pulang. 
Kejangnya sudah berkurang dan kondisi relatif stabil. Namun kesadaran belum pulih. 
Akhirnya Kak Nay pulang dengan kondisi tak sadar, sonde dan kateter tetap perpasang.

Sekitar seminggu kesadaran Kak Nay pulih, kami sangat bersyukur. 
Namun saat itu tidak mampu berbicara sama sekali.
Kak Nay memperlihatkan emosi yang tidak stabil, bisa karena efek obat psikotropika yang diberikan juga karena komunikasi yang sulit dilakukan.

Kondisi Kak Nay berangsur pulih dan berat badannya kembali.


Mungkin total 5 bulan sampai akhirnya kondisi Kak Nay kembali pulih. 
Secara fisik terdapat progress.

Namun ada beberapa hal yang berbeda.
Kak Nay lupa akan pelajaran yang sudah didapat, termasuk perkalian 1 sampai 9 yang telah dihapalnya ketika kelas 2.

Cara dia memanggil dirinya pun berubah. Sebelum sakit, dia memanggil dirinya "aku" namun setelah sadar, dia memanggil dirinya "Nay"

Gak pentinglah.

Yang membuat takjub adalah bacaan doa, sholat, surah-surat pendek Al Quran yang telah dihapalnya tidak hilang.

Sering kali ketika Kak Nay masih sering mengamuk sewaktu dirawat di rumah sakit kedua, dia meracau. Namun kami selalu sigap untuk membimbingnya membaca Ayat Kursi. Alhamdulillah, Ayat Kursi tersebut yang diucapnya. 

Begitupun ketika di UGD anak, ucapan yang keluar adalah ,"Astagfirullah hal adzim."
Awalnya saya dan mamanya kira itu adalah halusinasi kami. Karena kami berpikir, tidak mungkinlah dalam kondisi tidak sadar Kak Nay mengucap Astagfirullah hal adzim. Namun ibu dari pasien yang berusia 15 tahun itu berkata, "Maaf ya, kalau nggak salah dengar, si Nay ucap Astagfirullah hal adzim deh." 

Saya dan kakak ipar saya berpandangan dan akhirnya menyadari, Alhamdulillah, bahwa itu bukan hanya halusinasi. Almadulillah yang disebutnya adalah hal yang baik, Kak Nay masih mengingat Allah dalam kondisinya yang seperti itu.

Dalam waktu yang lain di antara involuntary movements nya, Kak Nay berteriak "Maafkan hamba-Mu ya Allah."

We cried.

Ombak besar telah lewat, insha Allah ombak yang sama tidak terjadi lagi pada Kak Nay atau pada anak-anak lainnya dan semoga Allah memaafkan kesalahan kami yang selalu complain dan tidak bersyukur atas banyak blessings yang telah diberikan oleh-Nya.


  

     








 

0 comments:

Post a Comment