twitter
rss


Namanya M. Salah deng. Inisialnya 'M'. Bukan M-ber yah (stop being corny, oi me!)
Ini hari pertama sejak saya menghadap psikolognya.
Gampangnya sih, kemarin, 24 Januari 2020, saya bertemu dengan psikolognya untuk membahas hasil tes M (Iam sorry, im not trying to beat aroun the bush, tapi kadang nih tangan n otak suka gak sync dengan keinginan).

Flash back pertama kali saya bertemu dengan ibu dari M.

Jreng jeng jeng jeng jengggggg.....

Tahun 2016, saya kebetulan menjadi salah satu panitia PPDB (uhm.. sebenarnya semua guru jadi panitia sih) tapi kebetulan saya yang bagian penerimaan siswa baru pada saat ibu dari M mendaftar. Saat itu terlihat kecemasan di raut wajah ibunya. Belakangan diketahui bahwa KK-nya yang digunakan untuk mendaftar, bermasalah. Bermasalahnya dimana, saya gak paham. Tapi yang pasti dia perlu bolak-balik mengurus di kecamatan. 

Secara garis besar, dia mengharapkan anaknya bisa masuk SD yang sekarang M belajar karena dekat dengan tempat tinggalnya. Dia adalah seorang single mom yang mengalami KDRT dan support system yang didapat dari keluarga (ortu dan siblings), kurang. Artinya, dengan menyekolahkan di dekat rumah, diharapkan M bisa pergi ke sekolah tanpa diantar mengingat dia bekerja dengan system shift. 

Nyaris 30 menit dia sharing dan saya hanya bisa mendengarkan dan bersimpati. Pada akhir percakapan, karena sudah masuk waktu dzuhur, sebelum pamit saya hanya bisa mengatakan, "ya... dimana saja anak ibu bersekolah, itu yang terbaik karena ini system on line, saya gak bisa berbuat apa-apa. Kalau memang rezeki anak ibu disini, insha Allah akan diterima."

Sejak awal sampai akhir percakapan, air matanya terus turun.

Ketika pengumuman penerimaan, nama M ada dalam list.
Yang saya ingat, saat itu saya berpikiran, anak ini kemungkinan besar akan bermasalah. Entah di prilaku atau masalah belajar. Memang gak selalu seperti itu, tapi menurut penelitian, salah satu penyebab prilaku atau prestasi belajar yang kurang adalah masalah dari eksternal, dan masalah eksternal salah satunya adalah keluarga.    

Selanjutnya saya lupa akan soal itu karena banyak hal yang perlu diperhatikan plus saya tidak mengajar di kelas dimana M berada.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 14 Oktober 2019 saya diberi kepercayaan untuk menghandle kelas 3, dimana M merupakan salah satu siswa kelas tersebut. Secara sepintas, saya telah mendengar kemampuan akademis M dari previous teacher. Sayangnya bukan hal yang positif. Jadi tindakan yang pertama kali saya lakukan adalah mengetes kemampuan membaca M, dan 2 orang siswa lain yang terdengar masih bermasalah dalam membaca. Mereka masih dalam tahap mengeja perhuruf. Untuk tingkat kelas 3, kemampuan mereka tertinggal jauh.

Di kepala sudah terbayang langkah selanjutnya, yaitu: menyatakan maaf kepada Ibu Kepala Sekolah bila hasil akhir saya nanti tidak maksimal karena dalam sisa tahun ajaran ini, akan sangat banyak hal yang perlu dikerjar, ditambah perhatian terhadap siswa lain. Yup! Saya meminta maaf in advance atas kekurangan saya.

Langkah selanjutnya adalah memanggil tiap orang tua untuk membicarakan kemungkinan membawa anak-anak mereka ke psikolog anak mengingat masalah ini kompleks. Mungkin saya masih bisa membantu mereka, terutama M, dalam mengejar ketertinggalan dalam calistung, namun ada hal lebih besar dan penting yang perlu didapatkan solusinya yang membuat saya mengangkat bendera putih.

Saya menyerah bila masalah utama tersebut tidak bisa diselesaikan lebih dulu...


(Be continued)


 




0 comments:

Post a Comment