twitter
rss

Masih tentang R.
Sepanjang sekolah itu berdiri, sekolah belum pernah mengadakan kunjungan ke psikolog ke siswa-siswanya. Bukan berarti tidak ada siswa ABK, tapi mungkin masih menjadi kendala besar dari soal mencari informasi maupun batasan yang disebut ABK itu sejauh apa.

Kita memang paham banyak ditemui anak-anak dengan kesulitan belajar, tapi banyak orang mengambil short cut dengan melabeli anak-anak tersebut 'bodoh.' Tidak terkecuali mereka yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Maaf, saya tidak men-judging. Tapi ini berdasarkan pengalaman yang saya temukan. Seseorang dengan mudahnya mengatakan orang lain bodoh hanya karena tidak memahami suatu subjek yang jelas-jelas tidak akan mempengaruhi 7% dari hidupnya (angka 7 disini bukan survey sih, itu karena saya seneng aja dengan angka 7).

Misal.
Kemampuan saya di rata-rata air, gak tinggi banget, jeblok juga enggak kalau soal akademik yah. Tapi kalau soal spatial, duh.... saya gak jeblok. Tapi super jeblok. Kayaknya gak bisa ke sebuah daerah baru tanpa nyasar. Bahkan ketika google maps sudah di tangan. Bahkan ketika di dalam mall, saya bingung dimana tempat saya masuk karena saya butuh keluar di pintu yang sama karena dekat lokasinya dengan tempat saya memarkir motor.

Dengan hal seperti itu, beberapa orang dengan kemampuan spatial yang bagus mungkin akan mengatakan saya bodoh. I disagree with that. Itu cuma satu aspek dari jutaan aspek dalam hidup kita.

Kembali lagi ke R.
R secara akademik dan sikap jauh di bawah rata-rata kelas atau rata-rata anak usianya. Dengan satu paket lengkap itu, membuat saya sakit kepala. Akhirnya diputuskan untuk mengecek kemampuan akademisnya a.k.a IQ.

Awalnya bukan perkara mudah walaupun google menyediakan puluhan juta informasi ketika saya mengetik 'psikolog Jakarta.' Seperti dikatakan sebelumnya, saya mencari yang terjangkau.

Iseng saya tanyak kepada kawan lama tentang psikolog gratis, jawaban nggak didapat. Adanya ditertawakan. Malu sih kalau diinget. Tapi dalam keadaan butuh, sebodo lah.

Saat itu saya sedang menempuh PGSD di UT. Iseng-iseng saya tanyakan kepada kawan dekat dan dia menceritakan pengalaman kawannya. Check re-chek, alhamdulillah akhirnya didapatkan juga informasi yang saya butuhkan: psikolog dengan harga terjangkau.

Tepatnya di Klinik Terpadu UI.
Psikolog nya mahasiswa program profesi UI. Biayanya (saat saya membuat tulisan ini) adalah 125.000. Itu sudah termasuk test IQ, school visit, dan home visit. Ketika R diperiksa, psikolog tersebut membutuhkan waktu sekitar 8 kali pertemuan (beberapa siswa lain yang juga saya bawa, biasanya berkisar antara 4-6 kali pertemuan. R memang agak complicated dibanding kawan-kawannya). 

Hasil didapatkan cukup lama, nyaris 4 bulan.
Test menyatakan bahwa perkembangan R sama dengan anak usia 6 tahun (saat itu R berusia 10 tahun), IQ 58. Jadi salah satu saran yang diberikan adalah materi untuk R disamakan dengan materi anak kelas 1, pengajaran bersifat konkret, dan pemberian materi tambahan dalam bentuk les.

I did as close as they suggested me and I could say that it worked.
'Worked' disini bisa dilihat dari derajat keisengan R terhadap kawannya sedikit berkurang karena iseng dan sulit diatur itu karena R tidak memahami materi yang dijelaskan.

 Masalah lain lagi adalah, adanya rasa malu dari R ketika kawan-kawannya secara spontan menertawakan dia yang mengerjakan soal kelas 1. Tapi yah... gak semua hal bisa dikontrol. Yang bisa saya lakukan adalah mengingatkan mereka bahwa R memang butuh belajar dari awal dan meminta mereka bersyukur bahwa mereka bisa mengikuti materi kelas 3.

Dalam hal membaca, R cukup lancar (sebenarnya bukan membaca, tapi 'membunyikan' karena R gak paham apa yang dibaca). Untuk menghitung angka puluhan juga cukup bagus. Selama ekspektasi gak tinggi terhadap R, sebenarnya handler R bisa puas dengan hasil kerjanya.

Sekarang R seharusnya kelas 5. But somehow, in the middle of term, dia memutuskan untuk tidak sekolah lagi. It's so sad mengingat kondisi keluarganya yang carut marut. Sang ayah yang tidak bertanggung jawab serta kasar, serta ibu yang cenderung aggressive. R banyak mengalami perlakukan yang abusive.

Mungkin seharusnya sekolah bisa menjadi tempat sementara R melepaskan masalah dirumahnya. Tapi yah... R dan keluarga mungkin lebih tau yang terbaik untuk R.

All I can do is wishing them luck in their life.

 
    

0 comments:

Post a Comment