twitter
rss




Lanjut tentang M.

Sunatullah, tiap kita mempunyai karakter dan kepribadian yang berbeda yang merupakan hasil interaksi diri, pengalaman hidup dan lingkungan sekitar. Kadang kita bertemu dengan seorang dengan karakter yang terbuka, sangat terbuka, atau sebaliknya, tertutup bahkan sangat tertutup.

M, menurut pengamatan, mempunyai karakter yang tertutup. Dia cenderung menyembunyikan perasaannya namun apa yang dia rasakan, terlihat jelas pada raut wajahnya. Mudah dikatakan kapan M merasa nyaman atau tidak nyaman. Sayangnya, jarang didapati M terlihat nyaman. Tiap kali ditanyakan langsung, M hanya merengut dan menjawab dengan satu atau dua kata dan dengan gesture yang menyatakan keengganan dan tidak nyaman.

Melakukan pendekatan bukan hal yang mudah.

Teringat ketika masih menjadi mahasiswa keperawatan dulu, kami belajar tentang psikologi (hanya di surface, of course) yang nantinya bisa digunakan untuk bekal kami praktek di rumah sakit jiwa (maaf, ini hanya keterangan pendukung, gak ada hubungannya dengan M).

Dalam teori itu diajarkan bahwa untuk mendapatkan informasi dari orang lain, kita perlu membuat target percaya kepada kita. Langkah yang pertama dilakukan (seingat saya yah) adalah kontak. Gak harus kontak fisik seperti salaman atau cipika cipiki, namun bisa sebatas 'setor muka' untuk membuat sang target familiar terhadap kita dan menganggap kita bukan orang asing lagi. Setelah itu bisa dilakukan pendekatan step by step. 

Teori ini dulu kami lakukan. Bisa dikatakan, it worked! Kami bisa menggali infomasi dari pasien yang kami tangani. 

Hal yang sama coba saya terapkan pada M.
Kalau soal familiarity, M pasti sudah familiar dengan penampakan saya (well, sekolah kami gak terlalu besar, jadi warga sekolah bisa dipastikan tahu satu sama lain walaupun hanya sebatas wajah yang dikenal). 

Minggu pertama, nyaris sebagian besar adalah masuknya komplain tentang prilaku M terhadap kawan-kawannya. Saat ortu dilibatkan, akan terjadi tik tok (bahasa saya). Maksudnya adalah tiap ortu secara spontan atau tidak, cenderung defensive terhadap anaknya. Itu hal yang normal. It didn't help solving the problem. At all!

Tapi ya sudahlah, alhamdulillah sejauh ini masih bisa dikontrol. 

Hasil pendekatan terhadap M butuh waktu nyaris dua bulan, seingat saya. Cukup lama. Memang ada kemajuan dalam membaca, walaupun sedikit, namun prioritas saya yang terbesar bukan itu.

Prioritas saya adalah membuat M nyaman dan terbuka terhadap apa yang dirasakan karena yang saya hadapi adalah seorang anak laki-laki yang, menurut saya, bermental kuat namun dengan banyak hal buruk yang dialaminya, kekhawatiran saya adalah, suatu hari anak ini akan break down disebabkan karena tidak adanya rasa percaya pada orang dewasa (di luar ibu kandung) yang bisa dijadikan pijakan saat dia butuh support. I am not his mom, I am not trying to be his mom. He is one of my pupils whom I know that he burdens something that he is not supposed to do in his young age. No matter how strong someone is, still we need a shoulder to cry on.

Sang ibu menceritakan bahwa M belum pernah mengatakan keinginan dia, entah meminta mainan atau hal lain. Later on saya dapatkan dari hasil test M, M memiliki kecemasan tersediri tentang kondisi ibunya yang merupakan single mom dan M merasakan besarnya beban dari ibunya. M menganggap bahwa permintaannya akan menambah beban ibunya.

Bulan kedua, setelah pelajaran tambahan siang, M datang kepada saya dan mengatakan, "bu, aku bagi duit dua ribu dong. Aku haus." Ringan. Tanpa beban.

Sejenak saya melongo. WOW!

Saya tersenyum lebar. 

"Memang harga minuman berapa?" tanya saya kemudian.

"Dua ribu," jawabnya.

"Ini. Berdua dengan kawan kamu." Saya menyerahkan selembar 5000-an. 

Ketika M dan kawannya keluar mencari minum, saya rewind di kepala saya kejadian tersebut. Ada rasa haru disana dan dorongan untuk berteriak senang.

Dia.
Mengutarakan.
Perasaan.
dan 
Keinginannya!

It made my day. Saya gak ingat tepatnya itu kapan. Tapi yang pasti, either Monday or Wednesday on December 2019 (karena di hari itu M dan 2 kawannya diberi les tambahan).

Saat itu saya yakinkan diri saya bahwa saya pasti dan akan menceritakan itu kepada psikolognya nanti bahwa M sudah mulai membuka diri dan tore down his invisible wall.

Since that day, he seems to enjoy his days compared with the old days.

Saat itu entah sudah berapa kali sesi M dengan psikolog nya, namun bisa saya katakan bahwa bantuan dari mereka memberi pengaruh positif yang banyak dari M dan memberi kelegaan tersendiri bagi diri saya.

Jalan masih panjang yang harus M dan kawan-kawannya hadapi. Saya hanya berharap mereka tumbuh seperti selayaknya tanpa drama dari orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi support system mereka. 

Saat saya menulis ini, M sudah mendapatkan sosok ayah baru yang tampaknya sayang terhadap M dan adiknya. Semoga semua perubahan yang ada bisa membuat M menjadi sosok yang kuat namun tetap menyadari bahwa it's okay to cry or saying what you feel in your heart without being afraid of burdening people who cares about you.

I do care about you, little strong boy!

Keep your head up and fly high :)

  

  



 

   









0 comments:

Post a Comment