Tahun ajaran kemarin dan dua tahun sebelumnya saya diberi amanat untuk mengajar peserta didik kelas 1. Hanya satu rombongan belajar pada tingkat ini. Mengajar kelas 1 itu fun sebenarnya tapi butuh fisik yang ekstra untuk menghandle mereka yang, meminjam bahasa kawan saya, lincah. Mereka super mobile di area yang terbatas. Butuh fisik dan tingkat kebosanan perlu ditekan sangan rendah hingga batas negatif sekian karena mereka dalam satu menit perlu diingatkan untuk duduk, tidak bersuara sebentar, kembalikan pensil temannya, tidak mencoret-coret meja atau buku kawannya, dan drama lain yang ketika dihadapi membuat sakit kepala namun ketika ter-convert menjadi memori, it was a fun moment.
Tahun ajaran 2021/2022 ada 32 siswa yang masuk. Mereka anak-anak yang baik. Namun ada 1 siswa yang stood out, iniasialnya A. Berbadan sehat, gempal berisi. Hari kedua MPLS, saat para peserta didik sedang berbaris untuk senam, saya mengambil fotonya dari belakang, memperlihatkan punggung tebalnya. Saya kirim ke seorang kawan guru sambil memberi komentar, "lihat nih Bu Din, jagoan saya."
Awalnya A sering sekali menangis karena sangat terikat dengan mamanya yang setia menunggu di kantin. So cute. Tapi walaupun seperti itu, tetap A tidak pernah tiba-tiba lari dan mencari mamanya. A tetap di tempat duduknya walau dengan air matanya yang tetap turun.
Waktu itu setelah senam jadwalnya adalah makan bersama di kelas. Saat senam A keluar dari barisan sambil menangis lalu berjalan menuju gerbang sekolah yang terkunci. A menangis lagi memanggil uminya. Saya mengawasinya dari jarak sekian meter sambil terkikik, entah kenapa. Mungkin karena A yang hugable jadi apapun yang A lakukan terlihat cute.
Setelah senam kami masuk kelas. Saat itu makan bersama belum dilakukan di lapangan bersama-sama tapi masih di dalam kelas masing-masing. A duduk lalu makan dengan tenang dibangkunya. Kebiasaannya adalah makan menggunakan tangan walau sendok selalu disiapkan oleh Sang Ibu. Saya merasa lega karena A berhenti menangis karena bagaimana pun cute-nya A, melihat A menangis lama pasti ada sedikit concern. Namun ketenangan itu tidak berhenti lama. Ketika bekal makan A habis, A kembali
menangis, lalu berjalan keluar kelas dan melihat ke bawah mencari-cari
uminya. Mungkin bagi A, makan itu seperti waktu iklan. Ketika iklan
selesai, show dilanjutkan kembali. Saya kembali terkekeh dibuatnya.
Dibujuk berapa kali pun, A tetap istiqomah dengan nangisnya. Tapi
untungnya A mau diajak masuk ke kelas karena ada 31 peserta didik lain
di dalam.
Saya memang tidak melunakkan aturan dengan membiarkan ibunya mendampingi karena I don't know. Saya hanya berpikir bahwa ini adalah fase awal, adaptasi memang sulit dan akan berkurang kesulitannya permenit. Untungnya orang tua dari A sejalan dengan aturan sekolah dan sangat kooperatif.
Saya lupa tepatnya berapa lama A tetap bersikap seperti itu. Kurang dari sebulan sepertinya. Apakah saya pernah merasa marah atau lelah terhadap sikap A? Seingat saya, tidak pernah - maaf kalau saya salah ingat. I don't know, I just loved him from the get go. He's so cute; perawakannya, cara berjalannya, cara senyumnya, suaranya, caranya memperhatikan lingkungan sekeliling, termasuk masker yang hampir selalu dipakainya di awal sekolah. Dari gesture-nya, saya bisa ketakan, A adalah anak yang menyukai keteraturan karena gerakannya rapi, teratur, mulai dari kecepatan langkah kakinya yang selalu sama, pandangan lurus ke depan saat berjalan, kedua tangannya selalu mencengkram tali ransel di kanan dan kiri saat datang dan pulang sekolah, caranya membuka dan menutup tempat pensil dan tas ajeg, tas selalu diresleting sampai ujung dan ketika menutup resleting tasnya mata A fokus tertuju pada resleting tersebut, seolah-olah memastikan bahwa tas benar-benar tertutup sempurna. A terlihat tenang dan tidak terlihat terganggu walau sendirian. Solitaire tampaknya. Saya akui saya sendiri solitaire, go glad about it.
Dari 9 bulan waktu yang Allah kasih untuk berinteraksi dengan A dan kawan-kawannya di kelas, seingat saya hanya dua kali A bermasalah dengan kawannya. Masalah pertama entah karena apa, A menangis. Bukan karena cengeng tapi karena ekspresi emosi dari seorang anak yang berusia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


