Update tentang D.
Saya menceritakan pertimbangan saya mengapa saya menolak menandatangani dokumen KJP tersebut dengan bukti-bukti yang saya miliki. Bu kepsek menimbang, saya meminta izin untuk kembali ke kelas untuk melanjutkan meneruskan membereskan kelas.
Tak berapa lama, Bu kepsek mendatangi saya di kelas, beliau mengatakan baru saja menelepon Ibu Pengawas untuk meminta pertimbangan mengenai permasalahan tersebut. Ibu Pengawas menyarankan untuk memberi satu kali kesempatan lagi. Saya menarik napas dan mengatakan, "Pak Zul aja ya Bu yang infokan ke orang tuanya." Bu Kepsek mengatakan, "nggak bisa, harus wali kelasnya. Bilang saja Ibu tunggu paling lambat hari ini pukul 08.30 karena Ibu ada rapat setelahnya. Kalau orang tuanya nggak datang ya sudah berarti KJP-nya hangus. " Akhirnya dengan segan saya mengirim teks kepada orang tuanya:
"Bismillah,
Assalamualaikum, Mama D, ditunggu Ibu Kepala Sekolah terkait pengajuan KJP sejak kemarin dan terakhir hari ini ditunggu sampai pukul 08.30 karena terkait dengan absen D yang banyak kosong tanpa kabar. Terima kasih." Terkirim pukul 07.42 am.
07.45 terdapat balasan dari ibu D.
"Iya miss, makasih infonya."
07.47 saya menjawab:
"Punten mam, WA saya tentang D gak masuk ini (menyertakan WA tanggal 19 Agustus) direspon setelah 10 hari. Saya harap tiap tidak hadir responnya cepat seperti respon ketika ada info KJP."
2 menit kemudian datang jawaban, "Owh iya kmaren2 hp dibawa kakaknya buat sekolah jadi saya gak sempet baca."
Saya menarik napas panjang. Beristigfar sejenak berharap jari ini tidak mengeluarkan kata-kata yang nantinya akan saya sangat sesali di dunia dan akhirat!!!
10 menit kemudian, setelah saya rasa emosi sedikit reda saya menjawab walau dengan sarkas, "10 hari gak sempat terbaca tapi sempat untuk pasang status. Baik. Terima kasih infonya."
Jawabnya 1 menit kemudian, "Iya saya masang cuma wa dari mis sya gak tau."
Saya menarik nafas lagi. Betul-betul malu menjadi barang langka.
"Yes. Berarti memang ada unsur kesengajaan dan kami anggap itu ketidakpedulian terhadap pendidikan dan tidak menghargai institusi pendidikan."
Dijawab kembali, "Sebelumnya saya minta maaf ya miss."
Saya sudah malas menjawab.
Pukul 09.00 lebih sedikit ayah D datang ketika saya sedang mengajar. Saya meminta tolong Pak Zul untuk menghadle kelas. Saya tanyakan kenapa bukan ibunya yang datang, sang ayah menjawab istrinya sedang sakit tenggorokan. Yeah, as predicted! Another excuse!
Saya langsung berterus terang mengenai ketersinggungan saya dan mengatakan, "saya keberatan kalau sekolah hanya dilihat hanya sebagai pihak yang menandatangani kertas agar KJP cair. KJP itu hak! Belajar itu kewajiban."
Saya sebenarnya apresiasi usaha sang ayah yang responsif dan ada banyak hal yang diceritakan mengenai tingkah laku dari istirnya yang sulit dipahami. Sang ayah izin meminjam ponsel saya untuk menelepon istrinya karena ponselnya tertinggal. Saya kembali ke kelas, meninggalkan ayah D bicara dengan istrinya melalui ponsel. Setelah selesai menelepon, sang ayah memberitahukan saya hal-hal yang dikatakan kepada istrinya. Setelah itu kami turun menuju ruang kepala sekolah. Di sana kembali sang ayah diingatkan mengenai konsekuensi bila terjadi pelanggaran lagi. Saya juga kembali menekankan bahwa ini bisa jadi KJP yang terakhir bila terjadi pelanggaran kedisiplinan yang sama. Surat perjanjian disiapkan, sang ayah diminta membaca baik-baik pointnya dan diminta untuk tanda tangan di atas materai. Sudah cukup main-mainnya!
Akhirnya dokumen KJP saya tandatangani lalu saya berikan kepada korlas yang menunggu untuk men-scan dokumen. Saya minta maaf kepada korlas karena keterlambatan ini.
Besoknya alhamdulillah ada perubahan perilaku dari orang tua D ditandakan dengan anaknya yang konsisten masuk. Pernah dua kali tidak masuk namun dengan pemberitahuan.
Sang ayah mengirim teks, meminta maaf atas tingkah laku istrinya. Saya membalas saya juga meminta maaf bila ada tindakan dan perkataan saya yang tidak berkenan.
Yah sudahlah. Capek juga.



