twitter
rss


Balik lagi membahas yang ada hubungannya dengan siswa ABK yang I dealt with. Yang akan saya ceritakan adalah hal-hal unik atau menarik yang ditemukan setelah pemeriksaan dilakukan.

Cuss...

Sejak awal menghandle kelas (tahun 2017) sampai sekarang (2020), saya telah membawa 11 siswa (maaf, ini bukan hitung-hitungan duniawi atau sok-sok-an karena ini akan ada hubungannya dengan hal yang akan saya jelaskan kemudian). 11 Siswa ini yang nyaris full saya temani sejak awal sampai pembacaan hasil test.

Siswa pertama adalah R:
Seperti tulisan saya sebelumnya, R memang bermasalah dan orang berulang kali dipanggil namun tidak ada respon. Namun akhirnya datang juga, itupun karena R tidak sengaja merusak fasilitas kelas. Yang awalnya mau bicara tentang barang yang dirusak, akhirnya jadi sesi curhat. Sang Ibu menangis menceritakan tentang kondisinya. Ketika saya tanyakan apa yang ibu harapkan dari anak ibu. Beliau mengatakan lirih, "saya cuma mau R lulus SD."

Jujur, saat itu saya tercekat.

"Okay, I will make it, Mama R. Insha Allah. No worries." Pikir saya saat itu.

Cara yang biasa akan sedikit sulit, ya satu-satunya cara ya mendapatkan 'kartu pass' tersebut.

Mungkin bisa saja me-mark up agar nilainya melewati batas minimal, tapi kok ya ngerasa aneh. Mungkin karena saya terlalu bakhil dalam memberi nilai.

Hasil dari pemeriksaan didapatkan bahwa perkembangan R seperti usia enam tahun. Test performance dan verbal di bawah rata-rata.  Psikolog mengatakan, R bisa saja memahami pelajaran kelas 3, namun ketika dia berusia belasan tahun.

Untuk opsi pindah sekolah, rumit karena banyak masalah, termasuk finansial yang tidak memungkinkan, dan masalah lain yang tidak mungkin diceritakan. 

Hampir setiap kali sesi dengan psikolog, Mama R selalu menangis.
Begitupun hampir tiap kali kami berbincang. Mama R terlihat sedih. Saya tidak berani bertanya langsung, tapi dari matanya terlihat beban yang berat namun senyum tetap dipaksakan ada diwajahnya. Dia seorang wanita yang sangat tegar. 

Siswa kedua adalah C, seorang siswa perempuan.
Sama seperti R, dia pernah tinggal kelas. Dari performance dan verbal, C masih lebih baik dari R. Namun tetap tertinggal dari kawan-kawan sekelasnya yang lebih muda satu tahun.

Yang menarik dari C adalah ketika hasil gambar C 'dibaca' oleh psikolog, ditemukan bahwa pada alam bawah sadar C, C berpikir lebih enak menjadi laki-laki (Hoi ... hoi ... kasusnya bukan seperti Milen Cy atau LucLun yang jiwanya tercecer entah dimana ya).

C menjelaskan bahwa ia merasa bahwa abangnya dan adik laki-lakinya diperlakukan lebih baik dari C. 

Saat pembacaan hasil, kedua ortu dari C dan saya hadir (jarang loh ada 2 orang tua hadir, seringnya hanya ibu dari siswa. Salut kepada ayah dari C yang sangat kooperatif). Ayah dari C dengan fair mengatakan memang dia memperlakukan C sedikit berbeda dari saudara kandungnya yang laki-laki dan mengakui kesalahan serta berjanji akan mengubah sikapnya. 

Semoga C berkembang lebih baik dan mencapai kesuksesan di masa depan.


Siswa ketiga adalah G.
R dan C sebenarnya senior G. Karena tertahan satu tahun, mereka sekelas. sekarang mereka kelas 5 (R sudah keluar).

G ini typical anak yang sopan, supel, pekerja keras, lembut, cute. Masya Allah.
Karena kemampuan membacanya dan pemahamannya masih jauh dari usia kronologisnya, itu sebab saya menyarankan untuk dilakukan test. 

Agak alot proses membawa G ke Klinik Terpadu. Tapi alhamdulillah diberi jalan. Sedikit hopeless awalnya karena saya merasakan ada petentangan dari ayahnya. Kalau ada salah satu dari orang tua yang menolak, saya enggan meneruskan. Karena saya khawatir si ayah dan ibu siswa bisa bertengkar karena hal ini. Itu hal yang sangat tidak saya inginkan.

Siswa keempat adalah N (laki-laki)
N ini ketika kelas 3 sekelas dengan R, C dan G. Tapi N saya tahan setahun karena nilai dan sikapnya belum menunjukkan perbaikan.

Saya ingat pertama kali menghandle kelas mereka, N banyak menyebut kata-kata yang kasar dan kotor. Sampai akhir tahun ajaran, tidak ada perubahan. N masih tetap menjadi trouble maker (N dan R bisa dibilang partner ini crime, maafkan bahasa saya).

Sebelumnya saya sudah menyarankan agar N dilakukan test akademik, namun ditolak oleh ayahnya. Sang ibu mengatakan bahwa ayahnya N akan 'mengobati' sendiri anaknya dan berujar, "memangnya anak saya gila?!"

Saat itu saya paham bahwa ada misunderstanding tentang test tersebut namun memilih mundur karena sedikit banyak tahu karakter ayahnya. Bukan hal bijak (dan aman) untuk diteruskan. 

Nyaris setahun kemudian, ketika nyaris akhir tahun ajaran, Mama N kembali dipanggil oleh guru kelasnya untuk disarankan membawa N melakukan test. Saat itulah saya mendapat kesempatan untuk menjelaskan tentang test akademik ini yang tidak ada hubungannya dengan obat atau diagnosis "gila." Ini murni test kemampuan akademik. Math and stuff.

Akhirnya sang ibu setuju.

Tapi... N menolak.

Masalah lagi :(

Beberapa kali saya jelaskan maksudnya dan memberi gambaran tentang kegiatan disana. 

N tetap menolak.

Hayati akhirnya lelah :(

Hayati akhirnya mengeluarkan 'ancaman.'

"N, kalau gak ikut test ini, akan sulit untuk guru melepaskan N ke kelas 4. N mau sekelas dengan ... (saya menyebutkan beberapa nama siswa kelas 2)."

Krik.... krik ... krik ...
N hanya diam dan menatap kosong ke bawah (saat itu kami berada di lantai 3).

Kesabaran Hayati habis.

Saya pegang pergelangan tangannya dan menariknya sedikit, "Okay. Itu artinya N mau sekelas dengan mereka. Yuk, kita infokan ke Ibu Kepsek."

N tetap mematung.

Saya mendesak, "Mau kesana dan ikut test?"

N akhirnya mengangguk. 

AKHIRNYAAAAAAA......

(Tentang N yang lebih lengkap mungkin akan ada di page setelahnya).

Yang manarik dari hasil N adalah:
Deep down, N adalah anak yang mempunyai kemampuan seni yang bagus, namun terkendala dengan konsep diri yang negatif, karena itulah skillnya terhalang.

Banyak hal yang mengekang kemerdekaan bereksplorasi N. 

Salah satu penyebanya, adalah saya...

I am really sorry N...
If i could turn back the time, I would talk to your dad when the first time the misunderstanding came out, instead of waiting to a 'good moment' to explain.

The moment that i thought "good", it actually swallowed you down.

I am really sorry.  
 
(Be continued...)

0 comments:

Post a Comment