twitter
rss

Dulu ada iklan yang tagline-nya: "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda." Kalau nggak salah itu iklan parfum untuk laki-laki. Tagline-nya simple tapi benar sih. First impression atau kesan pertama itu penting karena bisa jadi menggambarkan situasi atau sifat dari seseorang yang datang setelahnya. Terdengar seperti judgment ya? Mirip, tapi gak persis karena kalau judgment berkonotasi negatif - menurut saya. Atau judgment merupakan hasil dari first impression? Probably.

Saya ingat dua judgment karena first impression yang pernah dikatakan orang tentang saya, yang bisa jadi judgment tersebut benar atau sangat benar. Pilihannya hanya dua itu.

Sepertinya bukan hanya dua judgment itu tapi hanya dua itu yang dikatakan langsung di depan wajah saya, sisanya karena dikatakan di belakang saya or saya nggak inget aja. Yang dikatakan di belakang saya sebatas "katanya si Anu katanya si Inu" so I just shrugged and moved on. Pikiran tentang banyaknya kalori dari makanan yang saya konsumsi (atau yang akan saya konsumsi) lebih penting untuk dijadikan concern dibanding menanggapi "katanya katanya." 

Kurang lebih satu dekade yang lalu saya mendapat panggilan untuk interview di salah satu bimbel. Saya datang saja n nothing to lose karena saat itu sudah bekerja full time di salah satu institusi swasta. Ternyata bimbelnya sore setelah selesai jam saya di institusi tersebut dan melihat owner dari bimbel tersebut yang baik dan ramah (impresi pertama saya dan ternyata benar) ya saya ambil sebagai part time aja.

Owner dan keluarganya sangat baik, mashaallah. Bincang-bincang sebentar, saya langsung ditawarkan kelas dan jam mengajar selama 90 menit, dua kali sepekan. Setelah itu saya diperkenalkan dengan tutor lain yang saat itu ada jam mengajar. Entah bagaimana mulainya, kenalan baru saya ini bicara dengan nada yang membuat cringe, "kamu kelihatan judes, karena kacamata kali ya." I was stunned. Nggak inget balas komentar apa tapi kayaknya senyum aja karena nggak tahu respon yang sesuai apa atau sekedar nggak peduli aja karena bukan pertama kalinya dengar komentar itu tapi baru kali ini kacamata saya disalahkan. Mind you, kacamata ini dibeli lalu dipakai bukan untuk creating image - either positif or negative - tapi karena memang mata ini minus aja a.k.a kebutuhan. 

Selanjunya saya nggak inget interaksi saya dengan orang ini karena "first impression" saya terhadap orang ini bukan sesuatu yang positif. We weren't enemy, not at all, tapi karena memang nggak nyambung aja. Alasan nggak nyambungnya? I don't know. 

Kejadian kedua adalah saat saya selesai melakukan interview di institusi yang saya bilang di atas. Sebuah institusi swasta bilingual yang sering sekali memasang iklan di surat kabar. Iseng-iseng memasukkan lamaran, ternyata diterima. Setelah interview dengan owner dan SPV-nya, saya dikenalkan dengan partner kerja saya (satu kelas dihandle oleh dua guru). SPV saat itu bilang ke senior saya (kurang lebih), "ini partner kamu, namaya ini." Saya tersenyum but in response she rolled her eyes and sighed then turned her back and gave follow me-gesture. "It's not gonna be good, " I said to myself.

Yes, first impression saya terhadap orang ini bukan hal yang positif dan sayangnya, terbukti. Saya tidak menyalahkan kolega saya tapi memang kepribadian kami sangat bertolak belakang. First impression saya pada saat itu tentang kolega saya adalah: Dia yang tipe talker, saya tipe listener. Dia super ekstrovert dan saya sebaliknya. Dia yang pandai sugarcoated something, saya yang tended to give flat response. I tended to observe then talk, she's the opposite. 

Saat itu bukan hanya saya yang pegawai baru, tapi ada 7 orang selain saya. Hampir semua mempunyai kepribadian seperti kolega saya jadi mereka bisa berbaur dengan lebih mudah. Tapi di antara 7 orang tersebut, saya cukup akrab dengan empat orang dan satu orang sampai saat ini tetap menjadi kawan saya dan yang saya ceritakan pada tulisan "Partner in Crime." Satu orang lagi kadang menghubungi saya tiba-tiba mengajak bertemu dirumahnya di daerah Cisalak untuk menjadikan saya bahan dia praktek untuk menjadi MUA atau mengajak bertemu di daerah Cikini entah acara apa yang saya tolak mentah-mentah. Saya gabut kadang, tapi nggak gabut gabut amat untuk rela dicoret-coret muka saya dengan alat make up yang bahkan saya nggak tahu namanya.

First impression saya di mata partner kelas saya juga pasti bukan hal yang positif karena dari kawan saya yang suka tiba-tiba muncul itu, dia pernah berkomentar bahwa saya tidak bisa apa-apa. Respon saya? Saya tertawa dan membenarkan opininya. Mind you, itu pengalaman pertama saya handle kids dan memakai metode pembelajaran yang baru saya pelajari saat di sana dan banyak yang harus dipelajari.

Setahun saya di institusi tersebut lalu diterima di tempat lain yang sangat jauh dari rumah. Saya bertemu dengan orang-orang baru yang satu diantaranya akhirnya menjadi kawan dekat. Saya memanggilnya Mbak karena dia beberapa tahun lebih tua dari saya. Kami langsung nyambung dan I could be a talker in front of her. Dia sering curhat mengenai keluarganya dan hardships yang dia hadapi mengenai kondisi anak bungsunya yang saat itu sakit keras. Kami menjadi support system satu sama lain dan banyak masukan dari saya diterimanya. Suatu hari dia berkata, "tahu gak, pertama kali aku ketemu kamu, aku pikir kamu tuh oneng gitu soalnya diem aja kalau diajak ngomong." Saya terbahak. Uhm... first impression saya gak bagus memang. Tapi kadang first impression itu turned from good to bad or vice versa or just stayed.   

To be continued.

 

 

 

 

 

 

 

0 comments:

Post a Comment