twitter
rss


 

Ikan cucut ada di laut

Lanjut....

Okay, masih tentang impresi.

Mundur lebih jauh lagi ketika masa kuliah dulu.

Saya ambil kelas karyawan yang hanya Sabtu dan Ahad, full dari pagi sampai sore. Saya bertemu dengan seorang kawan yang sangat baik dan pintar, impresi pertama yang saya dapat dari Mbak R, sapaan saya kepadanya. Dia sering membantu saya dengan tugas terutama statistik. Pertemanan kami berkembang menjadi empat orang walaupun sekarang kami putus kontak.

Setelah lulus dari univ, kami masih terhubung via facebook walaupun hanya sekedar mengetahui kabar satu sama lain. Tiga tahun setelahnya, Mbak R menghubungi saya via FB mengatakan membutuhkan uang sekian. Saya katakan saya punya tapi dalam dua pekan ke depan, akan saya gunakan untuk keperluan lain. Dia berjanji akan mengembalikannya tepat waktu. Karena impresi awal positif dan berlanjut menjadi kawan baik, saya mengirim sejumlah uang yang dibutuhkannya. Ketika deadline tiba, saya mengirim pesan kepadanya beberapa kali. No response. Lebih dari satu dekade kemudian, tetap tidak ada kabar berita. Saya mengikhlaskan uangnya. Kalau saja dia mengatakan dengan jujur kendalanya, saya akan memaklumi karena money come and go namun beberapa orang mungkin terlalu gengsi untuk mengakui bahwa sedang tidak ada uang atau hal lain. Tapi impresi saya tetap; dia adalah seorang yang baik. Sangat baik.

Beberapa tahun setelahnya, saya mengenal kawan lain. Impresi pertama saya; orang yang sangat ceria, happy-go-lucky type of person. Kalau lelah setelah bekerja namun bertemu dengan kawan ini, lelahnya lupa saat mendengar cerita-ceritanya yang kadang silly dan wajahnya yang selalu tersenyum.

Suatu hari dia menghubungi saya mengatakan bahwa ayahnya meninggal dunia dan setahu saya dia memang sangat dekat dengan ayahnya. Dia berasal dari keluarga yang mampu namun sayangnya dimanja dengan uang berlimpah yang membuatnya santuy, terlalu santuy untuk dunia yang tidak santuy. Itu pertama kalinya sifat happy-go-lucky-nya hilang dan saat itu dia mengatakan membutuhkan uang sekian untuk mencoba membuka usaha kecil-kecilan. Saya tanyakan berapa. Dia menyebutkan nominal yang menurut saya masih bisa saya bantu. Lalu saya mengirimkan uangnya sambil berkata kepada diri sendiri, "kalau uang ini nggak balik, nggak apa-apa deh. Daripada hilang lagi satu kawan baik."

Waktu berganti. Kawan saya menceritakan tentang usahanya. Beberapa bulan kemudian dia memposting di sosmed dia sedang berwisata. Saya happy melihat kawan saya happy.

Tahun-tahun berganti. Suatu hari, ketika sedang melihat YouTube, ada suatu video tanya jawab tentang hutang. Saya klik videonya. Pak Ustad membacakan satu pertanyaan dari seorang jamaah yang kurang lebih berbunyi, "Pak Ustad, saya meminjamkan uang kepada kerabat saya, apakah saya perlu mengingatkannya atau ikhlaskan saja?" Pak Ustad menjawab kurang lebih, "ingatkan saudaramu karena mungkin dia lupa, " dan hal kurang lebih "kalau kita tidak ingatkan, dia akan menuntut kita di akhirat karena hutang bukan hal yang kecil."

Saya menimbang berkali-kali. Jadi kalau mengikhlaskan pun perlu mengingatkan dulu dan kalau dia tidak mampu membayar, ihklaskan. Tapi diingatkan dulu. Baiklah. Akhirnya saya susun sebuah scene di kepala saya:

1. Saya akan WA bertanya kabar. 

2. Saya akan menanyakan apakah dia ingat uang yang dia pinjam beberapa tahun yang lalu. 

3. Pasti dia akan jawab "aku lupa. Maaf ya. Kirim nomor rekening kamu ya."

4. Saya akan menjawab, "nggak usah dikembalikan kok, santai aja."

5. Kami tetap berkawan baik. 

Win win solution.

Akhirnya saat eksekusi tiba. Saya kirim teks: "Assalamualaikum. Hai... apa kabar?" Kirim. Centang biru. Typing...

"Hyyy....Baik, kamu bagaimana kabarnya?" Jawabnya tanpa jeda.

"Baik juga. Btw, maaf ya, aku mau tanya. Kamu ingat nggak uang sekian yang kamu pinjam?" Kirim. Centang biru. Typing...

"Ingat," jawabnya yang membuat saya tertegun. Lah??? Kirain lupa. Tapi karena scene sudah saya buat, ya saya jalankan sesuai rencana. Saya mengetik, "Nggak perlu dikembalikan ya. Santai aja." Kirim. 

Centang satu. 

No profile pic. 

Saya diblokir.

Well, sesaat sempat kaget juga karena tidak sesuai dengan skrip drama kumbara buatan saya. Tapi setelah itu tertawa sendiri sambil berkata, "jadi diikhlasin gak yak hahahaha." No win win solution. Tapi it was nice to have chance to meet happy-go-lucky person. 

Ada lagi beberapa orang lagi yang memberi good first impression, dan mereka benar-benar baik sebenarnya tapi akhirnya lost contact juga setelah uang terlibat. Setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya bukan saya salah dalam membaca impresi tapi uanglah yang mengubah situasi. Sejak saat itu bertekad tidak mau meminjamkan uang lagi toh hasilnya sama saja: sama-sama bikin orang lain marah ahahahahaha.

Pengalaman lain lagi mengenai penilaian first impression dari saya yang tidak meleset.

Suatu hari saya hendak pergi menggunakan motor saya. Lalu saya lihat helm saya rusak. Saya menghela nafas, baiklah, nanti mampir beli helm baru. Karena lingkungannya familiar begitu juga dengan orang-orangnya, jadi saya berpikir yang menjatuhkan helm saya pasti orang yang kenal atau minimal tahu saya karena lokasi parkir area terbatas dan hanya individu-individu yang sama yang parkir. "Mungkin dia takut saya marah atau takut diminta ganti rugi dan uangnya nggak cukup kalau diminta ganti, ya udahlah," pikir saya. Padahal saya nggak akan marah juga. Itu hanya sebuah helm. Sikapnya yang meremehkan kepemilikan orang lain dengan tidak meminta izin akan menggunakan barang orang lain dan lari dari tanggung jawab itu yang mengganggu.

Impresi saya saat itu, "tipikal orang yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab tampaknya."

Waktu berlalu dan sejauh ini impresi saya belum berubah dan beberapa kejadian yang datang setelahnya menguatkan impresi yang telah terbentuk.

Hingga puncaknya pada suatu hari ada kejadian cukup fatal yang melanda orang tersebut dan solusi diambil namun dipertanyakan oleh banyak orang mengenai kejujuran dari solusi tersebut. Melihat dan mendengar mengenai tindakan itu, saya tidak begitu keget karena impresi awal itu tidak meleset. 

Tapi dari pengalaman itu memberi saya ide untuk lebih berhati-hati dalam bergaul sehari-hari karena seperti kata Pak Ustad "hutang adalah sebuah kedzaliman dan doa orang yang terdzalimi akan diijabah oleh Allah." Kan gak lucu kalau saya merusak atau menghilangkan pensil siswa yang saya pinjam lalu kabur begitu saja tanpa meminta maaf dan mengganti lalu saya disumpahin jadi princess. Not funny. AT ALL!!!!

Ide lain yang muncul adalah membuat pajangan dinding mengenai kualitas yang perlu dimiliki. Ada di foto atas. Maksud saya, sebagai pengingat saya dan ikhtiar untuk membentuk karakter anak-anak karena itu adalah salah satu common sense. 

Yah itu saja sih tentang first impression.

Note: 

Kenapa saya menulis 'first impression' dan bukan 'impresi pertama'? Karena 'impresi pertama' masih terdengar lucu ya. Dan kenapa bahasanya tercampur, ya karena beberapa phrase lebih singkat dan lebih tepat menggambarkan karakter atau situasi dengan bahasa lain. 

Ya sudahlah. Bubbye.

 

 

 

 

Dulu ada iklan yang tagline-nya: "Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda." Kalau nggak salah itu iklan parfum untuk laki-laki. Tagline-nya simple tapi benar sih. First impression atau kesan pertama itu penting karena bisa jadi menggambarkan situasi atau sifat dari seseorang yang datang setelahnya. Terdengar seperti judgment ya? Mirip, tapi gak persis karena kalau judgment berkonotasi negatif - menurut saya. Atau judgment merupakan hasil dari first impression? Probably.

Saya ingat dua judgment karena first impression yang pernah dikatakan orang tentang saya, yang bisa jadi judgment tersebut benar atau sangat benar. Pilihannya hanya dua itu.

Sepertinya bukan hanya dua judgment itu tapi hanya dua itu yang dikatakan langsung di depan wajah saya, sisanya karena dikatakan di belakang saya or saya nggak inget aja. Yang dikatakan di belakang saya sebatas "katanya si Anu katanya si Inu" so I just shrugged and moved on. Pikiran tentang banyaknya kalori dari makanan yang saya konsumsi (atau yang akan saya konsumsi) lebih penting untuk dijadikan concern dibanding menanggapi "katanya katanya." 

Kurang lebih satu dekade yang lalu saya mendapat panggilan untuk interview di salah satu bimbel. Saya datang saja n nothing to lose karena saat itu sudah bekerja full time di salah satu institusi swasta. Ternyata bimbelnya sore setelah selesai jam saya di institusi tersebut dan melihat owner dari bimbel tersebut yang baik dan ramah (impresi pertama saya dan ternyata benar) ya saya ambil sebagai part time aja.

Owner dan keluarganya sangat baik, mashaallah. Bincang-bincang sebentar, saya langsung ditawarkan kelas dan jam mengajar selama 90 menit, dua kali sepekan. Setelah itu saya diperkenalkan dengan tutor lain yang saat itu ada jam mengajar. Entah bagaimana mulainya, kenalan baru saya ini bicara dengan nada yang membuat cringe, "kamu kelihatan judes, karena kacamata kali ya." I was stunned. Nggak inget balas komentar apa tapi kayaknya senyum aja karena nggak tahu respon yang sesuai apa atau sekedar nggak peduli aja karena bukan pertama kalinya dengar komentar itu tapi baru kali ini kacamata saya disalahkan. Mind you, kacamata ini dibeli lalu dipakai bukan untuk creating image - either positif or negative - tapi karena memang mata ini minus aja a.k.a kebutuhan. 

Selanjunya saya nggak inget interaksi saya dengan orang ini karena "first impression" saya terhadap orang ini bukan sesuatu yang positif. We weren't enemy, not at all, tapi karena memang nggak nyambung aja. Alasan nggak nyambungnya? I don't know. 

Kejadian kedua adalah saat saya selesai melakukan interview di institusi yang saya bilang di atas. Sebuah institusi swasta bilingual yang sering sekali memasang iklan di surat kabar. Iseng-iseng memasukkan lamaran, ternyata diterima. Setelah interview dengan owner dan SPV-nya, saya dikenalkan dengan partner kerja saya (satu kelas dihandle oleh dua guru). SPV saat itu bilang ke senior saya (kurang lebih), "ini partner kamu, namaya ini." Saya tersenyum but in response she rolled her eyes and sighed then turned her back and gave follow me-gesture. "It's not gonna be good, " I said to myself.

Yes, first impression saya terhadap orang ini bukan hal yang positif dan sayangnya, terbukti. Saya tidak menyalahkan kolega saya tapi memang kepribadian kami sangat bertolak belakang. First impression saya pada saat itu tentang kolega saya adalah: Dia yang tipe talker, saya tipe listener. Dia super ekstrovert dan saya sebaliknya. Dia yang pandai sugarcoated something, saya yang tended to give flat response. I tended to observe then talk, she's the opposite. 

Saat itu bukan hanya saya yang pegawai baru, tapi ada 7 orang selain saya. Hampir semua mempunyai kepribadian seperti kolega saya jadi mereka bisa berbaur dengan lebih mudah. Tapi di antara 7 orang tersebut, saya cukup akrab dengan empat orang dan satu orang sampai saat ini tetap menjadi kawan saya dan yang saya ceritakan pada tulisan "Partner in Crime." Satu orang lagi kadang menghubungi saya tiba-tiba mengajak bertemu dirumahnya di daerah Cisalak untuk menjadikan saya bahan dia praktek untuk menjadi MUA atau mengajak bertemu di daerah Cikini entah acara apa yang saya tolak mentah-mentah. Saya gabut kadang, tapi nggak gabut gabut amat untuk rela dicoret-coret muka saya dengan alat make up yang bahkan saya nggak tahu namanya.

First impression saya di mata partner kelas saya juga pasti bukan hal yang positif karena dari kawan saya yang suka tiba-tiba muncul itu, dia pernah berkomentar bahwa saya tidak bisa apa-apa. Respon saya? Saya tertawa dan membenarkan opininya. Mind you, itu pengalaman pertama saya handle kids dan memakai metode pembelajaran yang baru saya pelajari saat di sana dan banyak yang harus dipelajari.

Setahun saya di institusi tersebut lalu diterima di tempat lain yang sangat jauh dari rumah. Saya bertemu dengan orang-orang baru yang satu diantaranya akhirnya menjadi kawan dekat. Saya memanggilnya Mbak karena dia beberapa tahun lebih tua dari saya. Kami langsung nyambung dan I could be a talker in front of her. Dia sering curhat mengenai keluarganya dan hardships yang dia hadapi mengenai kondisi anak bungsunya yang saat itu sakit keras. Kami menjadi support system satu sama lain dan banyak masukan dari saya diterimanya. Suatu hari dia berkata, "tahu gak, pertama kali aku ketemu kamu, aku pikir kamu tuh oneng gitu soalnya diem aja kalau diajak ngomong." Saya terbahak. Uhm... first impression saya gak bagus memang. Tapi kadang first impression itu turned from good to bad or vice versa or just stayed.   

To be continued.

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tulisan aku sebelumnya, secara singkat aku membahas kawan yang selalu kasih hitchhike aku kalau ke tempat kerja yang toxic. Sudah lebih dari satu dekade aku berteman, and alhamdulillah we are still friends even tho we seldom meet.

Jadi dulu kawanku ini seorang single mom and struggling for the end meets for her and her daughter. Actually her ex is still responsible - very responsible to cover all the expenses for their kids, but to be honest, the salary in our work place was small. Mind you that she graduated from reputable university and very skillful so working in that place was not worthy.

So she was thinking about resigning from that kindergarten and find a better job but since there was a year contract she cancelled it.

But out of the blue, once day she came to me and told me that she got a job around Kalibata area. The money was good. Way better that this place. 

I told her to grab the opportunity.

She was confused a bit about the excuse that she would bring up.

I said, "tell them that you need to go visiting your sick father for few day but then tell that you cannot come back because your dad asks you to stay."

She was considering the idea for awhile.

"How about the uniform? Should I return them?" She asked.

"Just post it," I advised.

She agreed.

I was the only one who knew the dirty idea.

4 other friends that we were close to knew that she got new job, but had no idea where it was.

Her teaching partner, head mistress, and supervisor asked me about her leaving and got suspicious on me. Did I give a damn? Hell NO!

I had little respect to them, tbh, so it would be a bit relieved feeling to make them curious :)

But soon our little secret would reveal unexpectedly. 

So, almost every weekend, in the morning, she and I jogged at University of Indonesia for at least two hours.

Once, when we were walking down the path in UI, from the different direction, we saw the head mistress and her family. They were bicycling together. 

My friend was talking on the phone with her uncle at that time, so she walked aside to give space to other joggers or bikers.

Seeing that, the head mistress confronted me with sharp voice, "tell her not to be afraid of me." I said okay. She then left.

I told my friend about it and she just laughed and said, "who is afraid of her? not me."

That time i was still working in that place but somehow nobody confronted me about it. 

I don't remember what I felt on Monday, a day after the secret broken.

I don't think I felt scared of something like that. It was a normal day.

After few years, we flash back and I delivered my curiosity to my friend about why the head mistress didn't confronted me or got ramification from the lies.

She replied, "probably R (the head mistress) felt useless talking to you and pretty sure that you would keep your mouth shut."

I said, "yea. But even if she asked me whether I lied about the whole situation, I would admit that yea, I did lie. Nothing she could do about it anyway."

Working experience there was not all lemon.

Hm.. I was able to change it into lemonade :)

At least I got a good friend.

See you.