Masih tentang siswa yang ABK nih.
Tadi siang saya mendapat 'teguran' (yang bisa diartikan 'kepedulian') dari kepala sekolah karena beliau menganggap saya terlalu banyak membawa siswa ke psikolog untuk di test IQ. Terdapat kata-kata 'nanti habis siswanya bawa ke psikolog' dan 'di dapodik hanya bisa dua siswa yang didaftarkan.'
Sebenarnya sih...
Saya membawa siswa ke psikolog untuk dilakukan test kemampuan akademik untuk ya.. apalagi selain mengetahui kemampuan mereka. Utamanya bukan untuk kepentingan data di dapodik.
Awalnya begini...
Ketika pertama kali ditugaskan untuk menghandle kelas R, ya sebagai tanggung jawab, saya terima dengan senang hati,
Tapi.... R itu betul-betul sulit diatur ditambah prestasi akademik yang jauh tertinggal.
R pernah tidak naik kelas. Seharusnya R sudah kelas 4. Perkembangan fisiknya pun lebih pesat dibanding kawan-kawannya. Pikiran saya saat itu, agak berat juga kalau saya harus menahannya setahun lagi. Selain konsep diri yang bisa negatif (termasuk orang tuanya) juga perkembangan pasti mengikuti usia kronologisnya. Resiko cukup berat kalau R masih ditempatkan dengan mereka yang berbeda usia sampai 3 atau 4 tahun.
Tapi (lagi lagi 'tapi') saya gak mau mark up nilai nya hanya sekedar untuk meloloskan dia ke jenjang yang lebih tinggi namun tidak ada hal yang bisa R dapatkan dari sekolah. Dari sisi prestasi akademik, R jauh tertinggal. dari sikap, juga jauh tertinggal. Tapi kehadiran dia tidak pernah bolos. Salut lah.
Saat itu saya berpikir, satu-satunya jalan adalah mendapatkan 'kartu pass' untuk R agar bisa naik kelas terus tanpa halangan regardless sikap dan nilai yang kurang (maaf, bukan berarti kami tidak mencoba mengubah kondisinya lebih baik, hanya saja sudah terlihat jelas bahwa butuh waktu dan tenaga ekstra untuk merubahnya agar bisa mengejar ketertinggalan, pada saat yang sama, ya.. itu tadi, R tetap berkembang).
Saat itulah pencarian informasi untuk mendapatkan test kemampuan akademik dimulai dan alhamdulillah didapatkan.
Dari hasil test didapatkan bahwa perkembangannya sama seperti usia 6 tahun (saat itu R sudah 10 tahun) artinya dia belum sepenuhnya bisa menggunakan logika dan konsep abstrak, termasuk konsep benar salah dengan baik. Kosakatanya banyak hanya saja bila diajak bicara hal yang butuh pemahaman, dia stuck.
Pusing handle nya? BANGET!
Setelah dipikir matang dan cari info sana sini termasuk biaya dan akomodasi kesana, cukup banyak menyita waktu, tenaga, dan uang. Saya kalkulasi. Mayan sih. Maju mundur juga. Akhirnya saya bulatkan tekad. Pertimbangan yang ada di kepala saya saat itu adalah:
"Saya lebih memilih keluar waktu sekian minggu, tenaga, dan uang ekstra untuk membawa R test, DARIPADA saya mengeluarkan waktu sepanjang tahun untuk mengajari dia konsep yang dia akan sangat sulit pahami."
Pendeknya: saya lebih rela mengeluarkan waktu sekian minggu dan sekian Rupiah tapi ada hasil yang real, daripada menghabiskan sepanjang tahun dibuat pusing oleh tingkahnya yang ajaib tanpa hasil.
Pendeknya lagi: saya gak mau dibikin frustasi sepanjang tahun ajaran oleh 'keajaiban' R!
Setelah mengetahui hasil tentang R yang perkembangannya seperti usia 6 tahun, sejak saat itu saya hanya memberinya latihan-latihan untuk anak kelas 1 SD. R tidak selalu bisa menjawab semua dengan benar. Namun dia bisa menjawab benar sekitar 70%. Not bad lah.... Beberapa kali saya tangkap raut bangga diwajahnya ketika bisa menyelesaikan tugas yang diberikan.
Kembali lagi ke soal teguran.
Sebenarnya telah saya jelaskan tadi kepada kepsek bahwa saya mengetahui di dapodik kuotanya hanya 2. Tapi sekali lagi saya tekankan, para siswa yang saya minta untuk test akademik utamanya bukan untuk data dapodik. Ini untuk acuan saya, atau kolega saya sesama guru yang nantinya akan menghandle mereka. Saat kita tahu kemampuan mereka, kita insha Allah akan lebih mudah menerima kondisi mereka yang memang berbeda kemampuan akademisnya dibanding siswa-siswa yang lain. Namun bukan berarti materi pengajaran akan dibedakan. Hanya pendekatan, metode, maupun sifat evaluasi yang bisa lebih fleksibel.
Maaf, saya bukan bermaksud untuk menggurui, karena jujur pengalaman saya mengajar SD baru 3 tahun ini, sebelumnya saya preferred mengajar orang dewasa (karena dulu saya berpikir ribet banget dealing with kids, but then i found out that i was wrong).
Seperti yang saya katakan tadi, "menghindari frustasi."
Kalau mau jujur, pasti banyak juga personnels yang dealing di education sector bingung dalam menghadapi siswa yang sulit menangkap pelajaran walaupun sudah bolak balik dijelaskan dengan cara yang berbeda.
Beberapa bisa stay cool, keep trying and smiling.
Beberapa frustasi, yang bisa mengakibatkan keluaranya ucapan spontan yang tidak seharusnya ditujukan kepada para siswa yang mempunyai kemampuan akademik di borderline. Percayalah... mereka pasti merekam kata-kata negatif itu di hati mereka dan kata-kata itu tidak akan bisa boosting kemampuan akademis mereka.
Kalau mereka bisa memilih, mereka akan memilih dalam kondisi, yah minimal, average lahhh, dan bukan below average. Ketika mereka down dan terluka oleh ujaran negative (walaupun spontan), percayalah, metode secanggih apapun ataupun berapa ratus jam dihabiskan untuk membahas materi yang sama, akan sia-sia.
Pemeriksaan yang dilakukan, bukan bermaksud untuk short cut lalu sekedar 'kartu pass'.
'Kartu pass' yang sejak tadi saya maksud disini adalah kartu yang memungkinkan mereka menerima input sesuai kemampuan mereka.
'Kartu pass' yang bisa membuat kita bisa menerima keragaman mereka.
'Kartu pass' yang bisa membantu kita untuk berpikir "prestasi akademisnya memang tidak terlalu mencolok, TAPI... dia mempunyai senyum yang indah" atau "dia sangat sopan pada para guru" atau hal lain yang kadang dianggap tidak akan memberi kontribusi dalam kesuksesan di masa depan mereka kelak selain prestasi akademik.
Hal lain yang menjadi concern kepala sekolah, dan saya memahaminya, adalah .... jangan sampai hasilnya sia-sia dan respon dari orang tua hanya "anaknya memang seperti itu, mau diapain lagi."
Ada memang para orang tua yang seperti itu. Menganggap bahwa sikap, pengetahuan didapat dari lahir, bukan usaha dari lingkungan dan pengalaman.
Kepala Sekolah concern, jangan sampai buang waktu, kita menumpahkan waktu dan tenaga namun kontribusi dari ortu untuk perkembangan anaknya nyaris nihil.
Sedikit penjelasan.
Dalam rentang Oktober 2019 - January 2020, 6 siswa telah dilakukan test akademis. 2 siswa sudah diketahui dengan pasti hasilnya. 2 sudah diberi gambaran secara umum. 2 sisanya belum ada hasil. Insha Allah minggu depan.
Orang tua dari semua siswa tersebut sangat kooperatif dan mengakui kondisi anaknya dengan lapang dada (bahkan pada saat pertama kali kami membahas tentang anak-anak mereka) dan mereka bersedia dilakukan test.
Saya tidak akan maju bila orang tua enggan kooperatif.
Flash back kembali.
Ketika saya menghandle kelas R, ada seorang siswa baru, sebut saja D, yang dari performance-nya sudah terlihat bahwa dia 'spesial.' Pendekatan dilakukan dan dijelaskan sedemikian mungkin pada orang tua D, namun masih ada penolakan dari orang tua. Selanjutnya saya lakukan kembali 2x penjelasan dan pendekatan. Namun masih ditolak.
Saya mundur.
Intinya: Saya peduli dengan para siswa, namun bila terhalang oleh sikap yang kurang atau tidak kooperatif dari orang tua, saya pasti mundur. I don't wanna waste my time. Thank you, but No, thank you!
Teringat salah satu postingan dari orang tua siswa sebuah SMA yang meng-capture status wali kelas anak mereka. Saya tidak ingat keseluruhan pesannya. Kurang lebih yang saya ingat:
"Sebentar lagi akan ada penerimaan rapot. Tidak perlu khawatir dengan nilai Matematika atau IPA anak ibu yang kurang karena bisa jadi anak ibu adalah calon atlit yang tidak membutuhkan nilai Matematika 100 atau calon seniman yang tidak perlu mengetahui rumus Fisika..."
Kita semua adalah makhuk yang unik.
Kita diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan.
Kita diajarkan untuk mencintai kekurangan kita dan mencari kelebihan yang ada pada diri kita.
Mungkin sikap yang sama bisa kita lakukan terhadap orang lain.
Tanpa judging.
P.S:
R memutuskan untuk berhenti sekolah nyaris 6 bulan yang lalu. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa semoga Allah selalu memprotectnya.
R seorang anak yang spesial, lahir dari orang tua yang kurang harmonis dan financially unstable.
Dibalik semua hal dan cap negative yang dialamatkan kepadanya, dia adalah anak yang kuat.
Seandainya R bisa memilih, R pasti akan memilih dilahirkan dalam kondisi lebih baik.
Take care R ...










