twitter
rss

Tanggal 07 Februari 2022 lalu aku terinfeksi C19. Mungkin varian Omicron ya, mungkin. Gak paham bedanya, tapi karena varian ini lagi musim, ya bisa jadi kena yang ini. Anyways, it didn't make any diffenence tho. I was still sick and quarantined.

Kronologi.
Senin pagi itu aku ke sekolah seperti biasa, dalam kondisi melakukan puasa rutin, badan biasa saja, nggak terasa apa-apa. PTM 50% saat itu (saat tulisan ini ditulis pun masih 50% PTM).

Mind you, aku membagi kelas menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang berisi para siswa yang membutuhkan bimbingan lebih dan kelompok kedua berisi siswa-siswa yang mampu belajar secara mandiri setelah dijelaskan.

Senin itu qadarullah yang masuk adalah kelompok satu yang mengharuskan aku berjalan keliling kelas membimbing secara personal materi yang sedang dibahas dan itu membuat aku harus duduk berdekatan dengan siswa yang membutuhkan bantuan. Masker tetap terpasang.

Pukul 09.00 seluruh siswa pulang.
Chit chat sebentar dengan kolega guru (Bu Dina), membahas tentang mengunjungi seorang guru lain yang sedang terinfeksi C19 (Bu Wiwi). Rencananya Bu Dina dan aku akan mengirimkan buah-buahan titipan kawan-kawan untuk Bu Wiwi

Aku santai sebentar sebelum memutuskan untuk melakukan sholat dhuha.

Pukul 10.00 setelah sholat dhuha, aku mulai merasa demam tapi ketika aku menyentuh dahi dengan telapak tangan bagian luar, tidak terasa panas.

Saat itu badan mulai terasa sakit, terutama di persendian. Dalam hitungan menit, kondisi aku yang tadinya normal, berubah cukup drastis.

Dugaan awal aku adalah dehidrasi karena saat itu sedang puasa. Lalu kuputuskan untuk minum. Tidak ada perubahan yang berarti. Sakit kepala dan otot makin terasa.

Dugaan selanjutnya adalah chikungunya mungkin karena sakit otot yang sangat tapi segera kutepis karena kuingat tidak ada nyamuk ganjen yang muncul.

Dugaan selanjutnya adalah kelelahan dan masuk angin mengingat pada akhir pekan, Sabtu dan Ahad, aktifitas aku cukup banyak. Mulai dari bersepeda, membeli makanan kucing, memesan pasir di matrial, sempat kehujanan, dan mengantar mama ke rumah abang di Cibinong. Pada dua hari itu, aku bersepeda sekitar dua jam, kupikir, mungkin bersepeda terlalu berat untuk usiaku dan mulai mempertimbangkan mengikuti senam lansia.

Pukul 11 lebih, aku dan Bu Dina izin untuk membeli buah dan keperluan lain lalu ke tempat Bu Wiwi. Bu Dina dan aku berbagi tugas. Aku ke toko kelontong untuk membeli teh, gula, dll, sedangkan Bu Dina ke kios buah yang berada di seberang toko kelontong tersebut.

Saat sedang menunggu Bu Din, tiba-tiba aku merasa keringat dingin keluar disertai rasa seperti tersetrum pada tangan kiri. Sakit otot dan kepala semakin menjadi. Sempat kuberkata kepada Bu Dina, "Bu Din, kalau saya nggak kuat, Bu Din yang bawa motor ya."

Bu Dina memberi motivasi, "Kuat... kamu kuat. Bisa."

Tak lama, alhamdulillah rasa seperti tersetrum pada tangan kiri berangsur hilang. Kuyakinkan diri sendiri kalau aku bisa.

Akhirnya sampailah ke tempat Bu Wiwi.
Aku hanya menunggu di motor karena kondisi sakit otot yang menganggu.

Setelah dari tempat Bu Wiwi, aku mengajak Bu Din untuk ke klinik di daerah Mangga Dua. Sekilas aku khawatir kalau aku terinfeksi C19 dan berencana untuk test antigen. Saat melewati tempat tersebut, antrian sangat banyak, lalu aku urungkan niatku.

Setelah itu aku putuskan untuk melakukan bekam karena habit hampir sebulan sekali berbekam. Sekali lagi, saat itu aku masih cukup yakin, berpikir bahwa ini karena kelelahan dan masuk angin.

Saat di tempat bekam, mbak therapis tanya apa aku masuk angin karena punggung aku yang dibekam sangat merah saat dilakukan tindakan tersebut. Aku mengiyakan.

Rasa agak ringan saat itu.

Setelah tiba di rumah, satu-satunya yang sangat aku inginkan saat itu adalah rebahan dan mengompres dahi. Aku ambil thermometer, hasilnya 37.4. Badan dan kepala terasa sakit. Saat itu dugaan C19 makin kuat tapi berharap bukan. Namun aku mulai menjaga jarak dari orang tua.

Bada isya, kukatakan kepada mama kalau aku sakit kepala berat. Mama, my angel, membelikan panadol biru dari warung sebelah rumah. Aku jarang sekali mengkonsumsi obat. Prinsipku, selama aku masih bisa tahan sakit dan menggunakan herbal dari apotik hidup, aku memilih yang natural. Namun saat itu aku betul-betul butuh obat untuk meringankan gejala yang aku alami.

Tidak ada perubahan walau sebutir tablet sudah dikonsumsi. Aku kembali ke kamar, kembali mengompres dahi. Suhu 37.6.

Pukul 21.00 aku putuskan untuk mengirim pesan kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, menginfokan yang aku alami dan izin untuk tidak bekerja keesokan harinya.

Pukul 07.00 aku sudah stand by di klinik, menunggu dokter untuk mengambil sampe sebagai bahan test antigen.

Qadarullah positif.
Obat di tangan, off I went.
Kuinfokan kepala sekolah dan wakil.
Pak Kepsek menyarankan aku untuk test PCR. Positif juga.

Saat itu kuinfokan kepada 3 orang dari pihak sekolah; Pak Kepsek, Bu Wakil Kepsek, dan Bu Dina (karena beberapa jam Bu Dina bersama aku dan beresiko tinggi tertular, namun alhamdulillah Bu Dina sehat - I would feel so guilty if Bu Dina was infected).

Sesampai di rumah, aku infokan ke mama bahwa aku positif C19.

Setelah mengkonsumsi obat dari dokter, alhamdulillah rasa sakit kepala dan otot berkurang banyak.

Tiba-tiba teleponku berbunyi, kulihat ternyata callernya Bu Wiwi. Tanpa basa basi Bu Wiwi mengatakan sesuatu seperti, "kena ya?" dengan nada ringan. Aku tertawa. "Kok tahu?" Tanyaku menjawab pertanyaannya. "Tahu dong," jawabnya. Kami chit chat sebentar dan saling mendoakan.

Hari berikutnya sakit kepala dan otot hilang namun nafsu makan berkurang, terasa mual. Tapi itu jauh lebih baik dari hari sebelumnya.

Hari berikutnya lagi, hidung berair seperti flu. Gawat ini, pikirku karena tiap kali flu, jarang sekali flu itu berhenti sendiri. Aku hampir selalu mengunjungi dokter untuk ikhtiar sembuh dari pilek.

Obat awal yang diberikan dokter telah habis. Jadi pada Ahad, 13 Feb kembali aku ke dokter untuk mengobati flu. Aku katakan kepada dokter bahwa aku positif C19 dan sudah berobat, awalnya hanya sakit kepala dan otot serta mual sedikit namun sekarang muncul flu. Dokter katakan itu gejala susulan.
Aku membatin, "ini flu kenapa pake nyusul2." 🤦🏻‍♀️. Tapi yah... qadarullah.

Kondisi setelahnya semakin baik, alhamdulillah. Sempat tanggal 24 Feb cek antigen, berharap negatif (karena Bu Wiwi saat itu hanya butuh sepekan untuk recovery dan swabnya negatif).

Agak ragu juga sebenarnya karena flu masih ada. Dugaan betul ternyata, masih positif.

Setelah flu hilang, tanggal 20 Feb, hari Ahad, aku kembali cek, hasilnya alhamdulillah negatif.

Sempat khawatir bahwa aku menularkan ke siswa-siswa di kelasku namun alhamdulillah kondisinya aman.

Jujur, awalnya aku segan untuk test antigen karena kalau hasilnya positif, sekolah akan kembali ditutup padahal baru sekitar sepekan dibuka kembali. Aku akan merasa sangat bersalah namun bila aku tidak test, dan ternyata positif, PTM akan berlanjut dengan kelompok 2, aku khawatir aku akan menularkan anak-anak yang lain.

Ya sudahlah.
Tidak ada yang meminta diberi penyakit namun sudah ditakdirkan sakit jadi ya... jalani dan bersyukur saja 😊.

Semoga pandemi ini 100% berakhir dan sehat-sehat semuanya.

Adios.