twitter
rss


Tahun ajaran lalu (2017/2018) pertama kalinya saya menjadi wali kelas. Sebelumnya hanya menjadi guru bidang studi Bahasa Inggris. Sebelumnya pernah sih menjadi guru kelas di TK, itu bisa dibilang wali kelas bukan sih?😕. Yah... beda tingkatan but both experiences are amazing.

Tahun ajaran itu juga menjadi awal saya mengajar di sebuah sekolah dasar negeri. Yang tadinya hanya mengajar di tempat kursus dan setahun menjadi dosen di sebuah Akper dan Akbid di Karawang, jelas ini menjadi challenge yang exciting and terrifying at the same time.

Saya ingat sekali kelas pertama yang saya ajar tiap minggunya adalah kelas 3, Hari Senin, pukul 09.00 WIB. Itu kelas.... naudzubillah.... susah sekali dikontrol. Suara saya yang tidak cukup kuat menghadapi 30an anak yang separuhnya tidak bisa berhenti bicara memperburuk situasi. But the show must have gone on. And hey! I survived! Kalau saya buat ranking from the noisy level to the noisiest level, kelas ini menjadi juaranya!

Nah! Salah satu sumber polusi suara dan kacaunya kelas adalah siswa berinisial R tersebut. Anak ini gak pernah duduk dikursinya lebih dari 5 menit. Ada saja tingkahnya dalam memancing keributan. Dari iseng mengambil alat tulis kawannya, sampai meneriakkan nama orang tua siswa lain yang otomatis memancing keributan lebih jauh. Alokasi waktu mengajar yang seharusnya 45 menit mungkin hanya efektif 20 menit.

Tahun ajaran selanjutnya, saya didapuk menjadi wali kelas karena menggantikan guru yang pensiun. Saya didapuk menjadi wali kelas 3. Sedikit banyak saya sudah kenal dengan siswa-siswi kelas 3 tahun ajaran baru. Level ke-berisik-an mereka sedang dan cenderung mudah diatur. Lega. Tapi kelegaan itu cuma sebentar. Karena R nilainya tidak cukup dan tidak naik kelas, berdua dengan seorang siswi.

Tingkah laku R tidak berubah. Malah cenderung makin berulah. Mungkin ada kecenderungan merasa senior atau karena terlalu excited karena mendapatkan kawan baru. Rasa malu karena tinggal kelas jelas-jelas tidak tergambar diwajahnya.

First weeks felt like a torture! First months just getting worse! Ditambah lagi ada seorang siswa berinisial N - yang pada akhir tahun ajaran saya tahan di kelas tiga alias tinggal kelas - yang ternyata menjadi partner in crime R.

Beberapa kali saya menanyakan tentang mekanisme mengeluarkan siswa - seriously, i felt so drained! Tapi bukan perkara mudah dan saya bersyukur tentang itu. Berulang kali saya memanggil orang tua R untuk diajak berdiskusi tapi undangan selalu tidak ada hasil. Hingga suatu hari ...

Suatu hari sekolah kami akan ada akreditasi jadi sekolah sedikit banyak berbenah dengan meletakkan beberapa hasil karya pada dinding sekolah. Entah bagaimana R memecahkan salah satu hiasan pada dinding. Sesuai peraturan, siswa harus bertanggung jawab dengan cara mengganti dengan benda yang serupa. Akhirnya saya telepon orang tuanya. Ibu dari R menjawab panggilan saya. Saya jelaskan sesingkat mungkin.

Esoknya R tidak masuk sekolah. Ketika saya telepon, ibunya mengatakan R demam.

Dua hari setelahnya, Hari Jumat, sang ibu datang setelah jam pelajaran selesai. Saya masih di kelas karena masih membereskan hasil kerja siswa. Itu pertama kalinya saya melihat ibu R. Penampilan sangat sederhana, agak gemuk, raut muka terlihat cemas dan seperti ingin menangis. Setelah beliau memperkenalkan diri, saya mempersilahkan dia duduk. R sudah pulang duluan.

Sang ibu langsung meminta maaf karena tingkah laku anaknya dan menanyakan harga barang yang dirusak R. Saya katakan tidak tahu harganya lalu saya tunjukkan frame kaca yang R rusak. Sang ibu bercerita bahwa R mendapat pukulan dari ayahnya karena memecahkan benda tersebut akibatnya R sakit. Mendengar hal itu, saya tercekat dan meminta maaf. Tangis sang ibu pecah.

Sang ibu bercerita kalau R sering menceritakan tentang saya di rumah. Dia katakan saya baik dan tidak pernah memarahi dia. Sampai situ air mata saya nyaris jatuh. Jujur, saya cukup sering memarahi dia. Penilaian "baik" dari R jelas gak pantas saya terima. Sang ibu cerita semakin banyak. Ternyata dibalik sikap R yang sulit diatur, dia cukup memperhatikan orang-orang disekelilingnya.

Saya juga sempat menanyakan tentang ayahnya dan masalah belajar R. Makin digali, rasa kasihan terhadap R makin besar. Akhirnya saya katakan, "ibu, gak perlu diganti frame-nya. Biar saya." Tapi sang ibu memaksa.

Dari percakapan siang itu, saya putuskan bahwa saya membutuhkan psikolog untuk mencari tahu masalah yang ada pada R. Saya coba jelaskan hal tersebut pada sang ibu. Sang ibu hanya mengiyakan, entah 'iya' mengerti atau 'biar cepat saja' 😁. Saya tidak terlalu peduli "iya" yang mana. Tapi yang pasti, keputusan sudah bulat. Saya akan cari psikolog anak untuk R tapi dengan biaya terjangkau (karena jujur saja, tidak mungkin membebani keluarga R karena situasinya tidak memungkinkan, dan saya tidak akan mampu meng-cover biaya bila dibebankan per-jam - posisi saya guru honorer saat itu, dan saya yakin tidak ada budget dari sekolah untuk hal tersebut). Bismillah, pikir saya waktu itu. Allah pasti membantu R dan keluarganya.

To be continued...